blank

hhh"/> hhh"/>
rakiz_blank. Diberdayakan oleh Blogger.

diantaramoe

My Slideshow: Diantaramoe’s trip to Bali, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Bali slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.

claver's

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com
Read more: http://epg-studio.blogspot.com/2010/03/mengganti-penampilan-kursor.html#ixzz1zkrh3e3n
RSS

Sabtu, 21 Juli 2012

cerpen::::: Terbukalah



 
 
 

 
 
i
Quantcast

Dalam diam aku duduk di taman ini. Di kursi yang sama tempat kencan kita pertama. Saat itu aku memakai celana jins berwarna abu-abu pudar, dan kaus berlengan panjang warna putih. Kau, waktu itu mengenakan celana jins biru tua dengan kaus berlengan pendek warna abu-abu. Kita duduk bersisian, saling bergenggaman tangan. Perlahan, kusandarkan kepalaku di bahu kirimu. Pandangan kita sama, mengarah ke depan ke beberapa remaja yang sedang bermain basket. Perlahan kau menundukkan kepalamu dan mengecup kuat keningku. Dan mengalirlah cerita tentang keluargamu.
Kau, tidak bercerita tentang dirimu. Kau, bercerita tentang ibumu. Kedekatanmu dengan ibu yang melebihi kedekatan dengan ayah. Bahkan hanya kau satu-satunya yang ibumu minta untuk meneteskan obat ke telinganya yang sedang sakit. Hanya pada dirimulah ibumu meminta diantar ke dokter, bukan kepada adikmu atau ayahmu. Keluargamu adalah dua kubu yang terpisah. Kau dan ibumu, adikmu dan ayahmu. Namun, kalian tetap baik-baik saja. Kalian telah terbiasa hidup seperti itu. Terbiasa dengan pertengkaran-pertengkaran kecil yang selesai dengan sendirinya. Manusia memang seperti itu, kataku. Kita hidup karena terbiasa. Kita membenci kemacetan jalan raya tapi tetap menerimanya. Karena itu bagian hidup kita. Kau terdiam seolah mengiyakan.
Taman ini baru pertama kali kau kunjungi. Sementara aku, sudah puluhan kalinya. Kau terlihat takjub dengan kencan yang kuciptakan. Kencan yang memang tak ingin kubuat lazim—ke mal, makan, nonton bioskop, jalan-jalan dalam ruang berpendingin, dan jika masih ada sisa waktu nongkrong di kedai kopi. Tidak. Aku ingin membuatmu terkesan. Ingin membuatmu merasa aku berbeda dari orang-orang yang selama ini pernah kau kenal dalam hidupmu. Aku tahu kamu sangat mudah berkeringat, hingga kau lebih merasa nyaman di ruangan berpendingin. Tapi, aku yakin, kau dengan perasaanmu padaku, akan mau mencoba mengikuti cara kencan ini.
Dan di kursi inilah kita berada saat itu. Melihat warna langit yang berubah perlahan. Menyaksikan terang beranjak gelap. Minum segelas air jeruk artifisial seharga seribu lima ratus rupiah. Mendengarkan suara pengamen yang bernyanyi di kedai makanan dekat taman. Saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Kau dengan keluargamu, dan aku dengan impian-impianku.
Kencan kita di taman mengawali sederetan pertemuan kita selanjutnya. Pertemuan yang tak melulu ideku. Kau, pada akhirnya terlihat lebih nyaman di ruang berpendingin yang kau anggap satu-satunya solusi untuk mengatasi ketidaknyamanan dirimu pada tubuhmu yang sangat mudah berkeringat. Namun, ada hal yang menyentuh hatiku yang kau lakukan untukku. Sewaktu aku menuju mal tempat kita akan bertemu, kau kaget sewaktu aku meneleponmu bahwa aku naik bus karena sulit menemukan taksi yang tidak berpenumpang. Aku turun di seberang mal dan saat menaiki jembatan penyeberangan, kau sudah ada di tengah jembatan dengan ekspresi khawatir. Tak kau pedulikan keringat yang membasahi wajah dan rambutmu. Rupanya kau setengah berlari dari mal untuk menjemputku. Kau segera memelukku dan berbisik bahwa kau khawatir karena aku naik bus kota. Saat itu kau begitu tampan dan manis meski wajahku ikut basah oleh keringatmu.
Kini di sinilah aku berada, di kursi taman yang sama sambil mengingat saat-saat bersama kita. Saat kita bercinta untuk pertama kalinya. Saat aku menyadari kenapa aku mencintaimu. Jawaban itu ada di matamu. Mata yang selalu terbuka saat kau menciumi sekujur wajah dan tubuhku. Mata yang lebih berbicara banyak hal dari yang terkatakan oleh bibirmu yang penuh dan lembap. Mata yang membuatku menyerah untuk menemukan semua penjelasan nalar.
Melihat dan terlihat oleh matamu, membuatku selalu telanjang. Seharusnya aku ngeri. Karena aku tak lagi memiliki selubung apa pun. Seolah kota tanpa benteng. Rumah tanpa pagar. Mata itu tak menyampaikan kata permisi. Langsung masuk melewati pintu utama, melintasi ruang tamu, tak memedulikan isi dapur, dan langsung masuk ke ruang tidur tempatku menunggu dengan kepasrahan bulat Ishak yang akan dikorbankan Abraham kepada Tuhannya.
Kau, lewat matamu, membuatku tak pernah bisa menolak. Banyak hal yang kautawarkan lewat mata itu. Tentang kebersamaan, tentang hidup tanpa beban, kebebasan tak berbatas, perjalanan ke ujung pelangi. Hanya ada kau dan aku. Berdua menyusuri setiap tepi impian. Ya, kaulah dunia fantasiku. Aku terbebaskan di duniamu.
Sesekali aku harus pulang ke dunia nyata. Saat itulah aku merindukan teramat sangat pada matamu. Sering kusengaja memejamkan mata untuk membayangkan saat-saat kita berciuman dan mata kita saling berpandangan. Kau membiarkanku masuk dalam dunia di dalam matamu. Saat aku merasakan ketiadaan gravitasi. Ruang angkasa yang tak berbatas.
Namun, kenyataan memang selalu mengempaskan kita kembali ke tanah. Terbanting keras hingga kadang membuat remuk. Tak peduli seberapa lamanya kita ingin bersama, kita harus berpisah. Kuharap untuk sementara, bisikku sambil mengecup pelan lehermu. Kau terdiam, bibirmu mengerut cemberut. Dan kau pun terpejam, tak membiarkan matamu menyaksikanku pergi.
Aku tak pernah pergi. Bahkan meski itu hanya untuk beberapa hari. Bagaimanapun demi pertemuan kita selanjutnya, aku tak ingin membuat pasanganku jadi bertanya-tanya jika aku pergi lebih dari satu hari. Ada peran berbeda yang harus kujalankan. Seperti seorang aktris panggung yang tak bisa menolak peran yang disodorkan sutradara. Demi kepuasan penonton, aku harus menjalankan peran itu hingga selesai.
Sering kali saat aku menjalankan peranku, kubiarkan pikiranku melayang menciptakan imajinasi tentang kita berdua ketika semuanya mungkin berbeda. Aku bisa dengan mudah mengunjungi rumahmu, mungkin bertemu dengan ibumu, berbincang dengannya tentang masa-masa kecilmu. O ya, mungkin dia akan memperlihatkan foto-fotomu sewaktu kecil. Siapa tahu dia akan berkisah tentang kesedihan dan kekhawatirannya sewaktu tanganmu patah hingga menyisakan segaris bekas jahitan panjang di lengan kirimu. Dalam hati aku akan berkata kepada ibumu, aku sering mengecup bekas luka anakmu untuk meringankan sakitnya. Ada benang jahitan yang masih tertinggal dan membuatnya nyeri setiap kali sikunya terbentur. Tapi, hal itu tidak kukatakan padanya. Aku tahu dia bakal lebih banyak berpikir nantinya. Tak baik untuk kesehatan sarafnya.
Atau bisa juga aku akan menemani ayahmu berkebun. Mungkin membawakan sekop atau sekadar bercakap-cakap dengannya ketika dia tengah mencabuti rumput liar. Siapa tahu dia akan bercerita bahwa sedingin apa pun sikapnya padamu, dia selalu mengkhawatirkanmu. Bahwa di balik kemarahannya, dia begitu sedih saat kalian bertengkar dan melihatmu menggenggam pisau. Bahwa sebenarnya dia bangga terhadapmu sekarang. Dengan pekerjaanmu, dengan cara kamu membantu keuangan keluargamu, dan cara kamu merawat ibumu.
Bisa jadi aku akan memiliki waktu ngobrol dengan adikmu. Yang sebenarnya mengagumimu diam-diam. Jika tidak, mana mungkin dia sampai meminjam kausmu dan sepatumu tanpa izin? Kau begitu marah setiap kali adikmu meminjam barang-barangmu. Kau yang begitu rapi, memang sangat berbeda dengan adikmu yang terkesan sembarangan. Namun, tahukah kau, dia sebenarnya segan terhadapmu, dengan cara yang belum kaumengerti.
Kubayangkan aku mungkin akan memasak untuk seluruh keluargamu. Tumis spaghetti daging asap dengan irisan cabe rawit yang kausukai. Atau garang asem ayam yang akan sangat mudah kubikin karena aku tinggal memetik belimbing keris di halamanmu untuk menciptakan rasa asam yang segar. Dan saat semuanya terhidang, aku akan menunggui kau dan keluargamu untuk mencicipinya terlebih dahulu dan merasakan gelenyar hangat di dadaku ketika mereka menyukainya. Saat itu kau akan mengecup keningku dengan rasa bangga dan sayang tak terkira.
Tahukah kau, semakin hari aku semakin merasa ilusi itu semakin mendesak ke permukaan. Bergerak seolah magma yang menyusup celah-celah kerak bumi mencari kepundan yang siap meletuskannya. Aku sekuat tenaga mencoba menahan lava itu untuk tetap berada di dasar bumi. Entah untuk berapa lama.
Suatu hari aku mulai menyadari matamu mulai terpejam. Kau menciumku dengan mata terpejam. Kau memejamkan matamu saat menyentuh sekujur tubuhku, saat mengelus rambutku, saat mengecup leherku, saat tubuhmu menegang, mengeratkan pelukanmu. Kau menutup matamu.
Saat kau membuka matamu, labirin yang biasa kutelusuri tak lagi sama. Dulu, labirin itu tak pernah menyesatkanku. Labirin itu menuntunku menyusuri kelokan-kelokan yang kukenal, menuju sebuah taman yang sama tempat kencan pertama kita. Hanya saja taman itu tak berpenghuni. Lebih hijau, lebih sejuk, hingga tak membuatmu berkeringat. Di taman itu kita duduk di bangku yang sama, saling bergenggaman tangan, dan aku selalu duduk di sebelah kirimu. Kusandarkan kepalaku di bahu kirimu. Tangan kiriku perlahan mengelus bekas luka di lengan kirimu. Kita sama-sama terdiam. Sunyi. Hening. Hanya bunyi napas kita di taman itu.
Kini labirin itu tak mengantarkanku ke mana pun. Aku berusaha menyusuri setiap kelokan, tapi tak kunjung kutemukan taman itu. Labirin ini memerangkapku. Tersesat membuatku sesak napas. Aku tersengal.
”Kau sakit?” tanyamu sambil membelai pipiku.
Aku menggeleng. Aku kembali berusaha melihat matamu. Namun, aku kembali mengalami kejadian yang sama. Tersesat dan tak bisa bernapas.
”Ingatkah kau dengan taman tempat kita berkencan pertama kali?” tanyaku.
Kau mengangguk.
”Itu saat terindah buatku,” kataku.
”Buatku juga, Sayang,” ujarmu sambil mendaratkan ciuman di bibirku. Dengan mata terpejam.
Dalam hati, aku berteriak. Terbukalah! Aku ingin kau memandangku seperti dulu lagi. Aku tak tahu siapa yang ada di matamu jika kau terpejam seperti itu! Biarkan hanya aku yang kau lihat.
Namun, kau tetap terpejam.
”Maukah suatu hari kita kembali ke taman itu?” tanyaku.
Kau mengangguk.
Dan di sinilah aku sekarang. Duduk di bangku yang sama di taman tempat kita pertama kali berkencan. Sore ini tak ada remaja-remaja yang bermain basket. Namun, masih ada penjual minuman air jeruk artifisial yang dulu. Kulihat ada seorang lelaki 40 tahunan yang mengajak seekor anjing husky berjalan-jalan. Lihatlah, anjing itu begitu besar dan sepertinya jinak.
Di bangku ini, aku duduk dengan kedua tanganku berada di atas pangkuanku. Kali ini aku tidak memakai celana jins abu-abu dan kaus lengan panjang warna putih. Aku memakai rok terusan warna biru pucat. Perlahan kubuka kedua tanganku yang sedari tadi tergenggam.
”Lihatlah, Yank. Taman ini masih sama seperti dulu. Kau lihat sendiri kan, penjual minuman itu masih sama. Kali ini tidak ada yang bermain basket. Pengamen di sana masih bernyanyi seperti dulu,” ujarku perlahan. Kupandangi kedua telapak tanganku yang basah bersimbah darah. Menetes hingga menodai kain rokku. Di situlah, di kedua telapak tanganmu, kuletakkan matamu. Terbuka utuh. Sepenuhnya. Hanya memandangku dan memandang taman kita berdua.

Cerpen Rindu: Sometimes and Always

http://loverakiz.blogspot.com/


Sometimes and Always

o
Sudah hampir berjam-jam aku duduk diatas pohon besar di halaman belakang rumahku. Tidak jelas pohon apa ini. Yang jelas pohon ini ukurannya besar dan sudah ada sejak pertama kali aku tinggal dirumah ini. aku memainkan harmonika pemberian nenek kemarin asal-asalan. Soalnya aku tidak tau cara memainkkanya. Dan aku heran kenapa nenek memberikannya pada ku.


''Rey! ayo turun! Disuruh sama ibumu! Soalnya udah sore!''
Aku menengok kebawah. Oh ternyata Sarah. Sepupuku yang setiap liburan musim panas, pasti akan berkunjung kemari. Dia pergi kemari bersama ibunya.
''hah??'' ucapku pura2 tak dengar. ''turuuuuunn!!'' teriaknnya terdengar kesal. Aku terkikik geli. ''aku tidak bisa mendengarmu, sarah! Suara mu kecil sekali!''
''Turunnnnnnn!! kamu tuli ya?!''
''hah? Guruuunn??''
''Rey!!!''
''hahahaha iya iya'' aku turun dari pohon sambil tertawa-tawa. Saat kakiku sudah menginjak tanah, Sarah mencubit lenganku kuat. Aku berteriak kesakitan. ''Rasain!'' ucapnya jutek.
''aku tuh capek tau manggil kamu, teriak-teriak kaya orang gila, tapi kamu malah pura2 ga dengar!''. Sarah ngerocos.
''Terussss????'' ucapku gak peduli sambil berjalan memasuki rumah. Sarah mendengus kesal lalu ia mengekorku dibelakang.
Dan tiba-tiba saja ide busukku kembali muncul. Aku mempercepat langkahku ke arah pintu belakang. Dan setelah sampai diambang pintu, aku malambaikan tanganku ke arah Sarah. kemudian aku menutup pintunya, lalu menguncinya.
''REEEYYY!!''
aku tersenyum penuh kemenangan.

****
Rey sialan. Aku terpaksa masuk kedalam melewati pintu depan. Kenapa sih dia selalu saja menjahiliku setiap aku datang kemari. Tingkahnya Tidak pernah berubah. Masih saja kaya anak kecil padahal umurnya kan sudah 16 tahun.

Saat aku masuk kedalam rumah, aku melihat dia sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil memejamkan matanya. Karena masih kesal, aku mendatanginya diam-diam lalu menjewer telinganya.
tapi belum sempat aku menjewer telinganya, dia sudah menepis tanganku duluan.

''walaupun mataku tertutup, aku bisa membaca gerak gerikmu'' ucapnya sambil tersenyum sinis. Bagaimana dia bisa tau? Aku benar2 kesal dibuatnya. lalu akupun ikut2 merebahkan tubuhku disebelahnya. ''kau menyebalkan!''

Dia terkekeh geli. ''kau mengesankan. Mengesankan untuk dijahili..'' aku mencubit perutnya lalu beranjak pergi kedalam kamar. Meninggalkan si anak menyebalkan itu mengumpat-ngumpat kesakitan sendirian.

****
Keesokan paginya, aku terbangun karena Sarah menyiramiku dengan air. Aku kaget dan langsung marah-marah karena kesal. katanya Sarah lelah membangunkanku tapi aku tidak bangun-bangun.
''ngapain sih dibangunin?!'' tanyaku kesal
''ibu kamu suruh!''
''ibu kamu suruh''aku membeo.''selalu saja begitu! Kenapa coba mesti pake air?! Liat, kasurnya jadi ikutan basah, kan?''
''aku udah-
''ah terserah. Keluar aja deh kamu!''
Aku mengusirnya. Lalu Sarahpun keluar dari kamarku diakhir dengan bantingan pintu yg cukup keras. Aku menutup mukaku dengan bantal.

Selesai mandi, aku keluar dari kamar berjalan menuju ruang makan. Tidak ada siapa-siapa disana. Bahkan diseluruh penjuru rumah ini pun tidak ada orang. Yang ada hanya kucing persiaanya ibu sedang tergolek malas di atas sofa ruang tengah.
Tidak tahu mau ngapain, aku pun pergi kehalaman belakang rumah. Memanjat pohon besar kesayangnku, dan duduk diatas dahannya yang kokoh.
Tapi saat hampir saja aku ingin duduk didahannya, aku terkejut melihat sarah ada disana.
''heh! Ngapain kamu disini?''. Sarah menoleh. ''eh ng... aku penasaran kenapa kamu suka duduk disini. Makanya aku coba manjat, Dan ternyata menyenangkan ya!'' ucapnya kaku.
lalu aku naik, dan duduk disebelahnya.
''maaf ya yang tadi pagi...''
Aku melihat kearahnya. Wajahnya tertunduk dalam. ''soalnya kamu gak bangun-bangun sih...'' lanjutnya sambil sesekali melirikku. Aku tidak bicara. Hanya diam memandanginya saja.
Sarah salah tingkah.
''ngomong dong Rey.. Jangan diliatin aja''ucapnya terdengar seperti bisikan diakhir kalimat. Aku terkekeh. Lucu sekali. Baiklah, kali ini aku berniat untuk menggodanya.
Aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya.
''baik..aku memaafkanmu.. Tapi sebagai gantinya, aku meminta sebuah.......ciuman''
Aku mendekatkan wajahku kearahnya. Sepertinya dia kaget setengah mati. Wajanya memerah seketika. semakin dekat dekat dan semakin dekat. Sarah makin salah tingkah. Mau menghindarpun kepalanya sudah mentok di batang pohon. Sebisa mungkin aku menahan agar aku tidak tertawa. Dan akhirnya saat benar2 sudah terlalu dekat.......................................fuh! Aku meniup wajahnya. Lalu menjauhkan diriku dan tertawa terbahak bahak. Mulut Sarah menganga lebar. ''kena kau! Ha ha ha''

****
Aku malu setengah mati. Aku kira dia benar-benar akan menciumku. aku mengumpat pelan dan menutup wajahku dengan kedua tangan.
''sudah jangan malu begitu...hahaha'' Katanya masih tertawa-tawa. Aku merasakan tangannya mengacak-ngacak rambutku. Langsung saja ku menepisnya.
''kau benar2 menyebalkan!!''aku berteriak kesal lalu memuku-mukul lengannya sekuat yang aku bisa. Entah kenapa aku kesal sekali dengannya.
Aku kesal karena dia menjahiliku sampai sebegitunya. Aku sampai ingin meanangis rasanya.
''sudah!'' Rey berhasil menahan tanganku. ''Sakit tau! Mukulnya kira-kira dong''
aku memasang muka jutek. Lalu berusaha menarik tanganku yang ditahan olehnya. Tapi dia menahannya terlalu erat.
''kayanya marah banget. Minta dicium beneran nih?'' Rey tersenyum jahil, sambil menaikkan kedua alisnya. pertanyaan yang berhasil bikin jantungku serasa mau copot.
''a..a..apa?!'' ucapku terbata-bata. ''eng...engak!''
''hayoo ngaku...''. Rey terkikik geli.
''Enggak kok!''
''Bener.....'' Rey medekatkan wajahnya lagi ke arahku. Aku gelagapan. ''R...rey...''
Rey semakin mendekatkan wajahnya ke arah ku. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya. Semakin dekat dan semakin dekat. Aku memejamkan mataku erat2. Kenapa aku tidak menolakanya? Aku tidak tau! Lalu.....................cup. Rey mencium...keningku?
Aku membuka mataku dan melihat Rey yang jarak wajahnya sangat dekat denganku, dia tersenyum manis sekali. ''Selesai... Jangan marah lagi yaa...'' katanya sambil melepaskan tanganku yang sedari tadi digenggamnya. Lalu bergegas turun meninggalkanku sendirian disini.

****
Sejak kejadian itu, setiap saat aku jadi memikirkannya. Terkadang aku bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Terkadang aku juga suka mencuri-curi pandang ke arah Rey. Dan merasa sangat membosankan jika Rey sedang tidak ada di rumah.

Dan.... Sejak kejadian itu Rey berubah. Rey tidak suka menjahiliku lagi. Rey jadi sering tidak ada dirumah. Jika berpas-pasan denganku dia hanya sekedar menyapaku dengan wajah sok cerianya itu. Dia tidak mengajakku berbicara. hari berganti hari Rey tidak kunjung berubah seperti dulu. Aku mulai merindukannya. Merindukkan kejahilannya. Aku tidak tahu kenapa aku merindukannya. Kenapa aku lebih memilih dia menjahiliku dari pada tidak peduli denganku. Padahal dulu-nya aku sangat ingin dia berhenti mengangguku setiap aku pergi berlibur kemari. Besok aku akan pulang. Soalnya liburan musim panas akan berakhir. Dan kami akan kembali masuk sekolah. Untuk pertama kalinya aku merasakan musim panas kali ini terlalu singkat.

***
Aku menarik koperku berjalan keluar rumah. Berjalan mendekati ibuku, ibu Rey dan Rey yang sudah menungguku dari tadi didepan gerbang.

''baiklah... Taksi yang akan mengantarkan kita ke stasiun kereta sudah sampai... Kami pamit dulu ya'' ucap ibuku sambil berpelukan dengan ibunya Rey. Lalu ibuku memeluk Rey. Dan aku memeluk ibunya Rey. Setelah itu, ibuku berjalan masuk kedalam taksi. Dan sekarang aku sedang berhadap-hadapan dengan Rey. Rey memelukku. Aku membalasnya. Tapi terlalu singkat. Soalnya Rey langsung melepaskannya. ''sampai jumpa diliburan musim panas berikutnya'' katanya lembut. Aku tersenyum tipis. Lalu merogoh saku celanaku dan memberikannya selembar kertas yang terlipat dua. Rey menerimanya ragu-ragu dan akupun beranjak masuk kedalam taksi. Setelah taksi berjalan pergi, sampai aku didalam kereta api dan sampai aku kembali kerumahku, yang aku fikirkan nya bagaimana reaksi Rey ketika ia sudah membaca surat itu?

***
''aku pulang!!''. Aku mengusap-usap kedua telapak tanganku karena kedinginan. Musim Dingin kali ini serasa lebih dingin dari pada musim dingin sebelumnya.
aku berjalan menuju ruang tengah dan mendapati.......
''Rey???''
''hai sayang, kau sudah pulang? Lihat siapa yg datang, Rey berkunjung kerumah kita'' ucap ibu senang. ''tapi sayang ibunya tidak bisa datang''
''oh baiklah, karena kau sudah pulang, kau saja yang menemani Rey. ibu mau pergi soalnya ada arisan. Ibu pergi dulu ya..''
Lalu ibuku pergi meninggalkan aku dan Rey dalam keheningan. Lama aku hanya berdiri, akhirnya aku memutuskan untuk duduk dihadapannya. ''hai'' sapaku canggung. Dia tersenyum
''Well, aku udah baca suratnya.. Maaf, dan teruma kasih..''ucapnya. Dan aku tidak mengerti.
''oh begitu... Apa kabar?''ucapku mengalihkan pembicaraan.
''tidak terlalu baik. kamu?''
''kenapa? Aku baik''
Lama rey hanya diam. Lalu dia berkata pelan ''karena kau tidak ada dirumah..''
''apa?''
''karena kau...ng...aku merindukanmu..'' mendengar itu Aku hampir saja mati kena serangan jatung.
''kau sedang bercanda kan? aku tau itu. Itu kebiasaanmu'' kataku pura-pura tenang.
''kali ini aku serius!''
''lalu kenapa....''
''karena waktu itu aku sedang kacau. Sejak kejadian itu, Aneh rasanya jika aku dekat2 denganmu..''
''aneh?''
''ya..''
Lalu kehingan kembali menghantui kami. Lama sekali.
Tiba2 saja Rey, menggenggam tanganku. Aku menatap kearahnya kaget.
''I love you Sarah. I keep asking my self why it has to be you. it needs a long time to know that you the most beautiful thing in my life''
''maaf kalo kamarin-kemarin aku hanya diam gak ngomong apa-apa sama kamu. Itu karena aku cuman terlalu takut..''
aku merasa mataku mulai terasa panas.
''kamu gak lagi becanda kan?'' ucpku hampir manangis sangking senangnya.
Rey tertawa. Lalu menggeleng mantap. bangkit dari duduknya. Berjalan ke arahku dan memelukku erat.
''I love you too'' ucapku didalam pelukannya.
''haha aku tau.. kan kamu udah tulis di surat..''
Aku mempererat pelukanku. Menghirup aroma rey dalam-dalam. Melepas kerinduan yang Sudah terpendam lama. Kau dan aku selamanya...

The END

Cerpen Cinta Sedih: MENANTI DESEMBER


MENANTI DESEMBER
Oleh: Oleh :rakiz blank

Puisi itu kembali terlantun dari bibir mungil Vera. Sudah hampir 3 tahun Vera melantunkannya sambil duduk di dekat jendela kamarnya dan menatap rembulan yang tiada henti menyinari malamnya. Itu seolah telah menjadi kegiatan rutinnya sebelum tidur.


“Vera… kamu belum tidur nak…?” tegur Mama Vera yang tiba-tiba saja telah berdiri di belakangnya.
“Belum Ma…” jawab Vera singkat.
“Trus, ngapain kamu duduk di situ…? Nanti kamu masuk angin.”
“Aku cuma liat bulan kok Ma. Liat dech, bulannya cantik banget…! Kayak Mama. Rasanya, aku ingin terus melihat bulan itu. Selamanya…” Ujar Vera sambil tersenyum dan memeluk Mamanya. Mama Vera pun membalasnya dengan pelukan yang hangat. Dan tanpa dia sadari, dia meneteskan air mata.
“Ma, Mama kok nangis…?” Tanya Vera saat air mata Mamanya menetes tepat di jemari tangannya.
“Nggak apa-apa sayang. Sekarang kamu tidur yah…!” ujar Mamanya sambil menyeka air matanya dan menuntun Vera ke pembaringannya.
“Selamat malam Ma.” Ujar Vera sambil tersenyum.
“Selamat malam sayang…” balas Mama Vera sambil mencium kening putri semata wayangnya.
Keesokan harinya, Vera kembali beraktivitas seperti biasanya. Bangun pagi-pagi, shalat, mandi, berpakaian rapi, sarapan, kemudian ke sekolah.
“Ma, aku berangkat dulu yach…” pamit Vera.
“Iya nak. Hati-hati di jalan.”
“Ok Ma… Assalamu alai’kum…”
“Wa’alaikum salam.”
Sesampainya di sekolah, Vera disambut dengan happy oleh sahabat-sahabatnya.
“Pagi guys…” sapa Vera.
“Pagi nona Vera…” balas sahabat-sahabatnya serempak.
Happy banget non… sampe senyum-senyum sendiri… baru dapat lotre yah…?” canda Citra.
“Hehehe… nggak kok. Pagi hari itu harus disambut dengan senyuman. Agar hari yang kita lalui terus dipenuhi oleh senyum dan kebahagian. Juga dapat menghapus segala luka dan duka yang terselip  di dalam hati. Sehingga kecerian kembali meliputi perasaan kita. Dan, nggak ada gunanya juga terus bernestapa meratapi kesedihan yang berlalu… maka, tetaplah kau tersenyum agar semua dukamu berangsur hilang dan berganti menjadi kecerian.” ujar Vera sambil tersenyum manis yang membuatnya kelihatan lebih cantik.
“Iyah Bu guru…” balas Citra.
“Yayayaa…beginilah susahnya berbicara dengan sang pujangga. Setia ucapan kita pasti dibalas dangan kata-kata yang puitis.” Timpal Karin.
“Hehehee… kalian ada-ada aja.”
Tak berapa lama mereka mengobrol, bel pun berbunyi. Mereka segera duduk di bangku masing-masing sambil menunggu guru mata pelajaran pertama hari itu.
“Selamat pagi anak-anak.” sapa Pak Syarif guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas mereka yang baru saja tiba di kelas.
“Pagi Pak……” jawab anak-anak dengan serempak.
“Baiklah, sebelum kita memulai pelajaran hari ini, saya akan memberitahukan sebuah informasi mengenai ulangan semester genap.” Ujar Pak Syarif. “Kemungkinan, ulangan akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Desember nanti kira-kira tanggal 12-17. Jadi, saya harap kalian bisa belajar dengan sungguh-sungguh dan saya tidak mau ada siswa atau siswi dari kelas ini yang tinggal kelas. Kalian mengerti…?!” tegas Pak Syarif.
“Mengerti Pak…”
“Desember…” desis Vera lirih.
“Kenapa Ver…? Kok kamu kelihatan tegang gitu…? Biasanya kamu yang paling semangat kalau mau ulangan…?” Tanya Karin.
“Nggak kok. Oiaya, kita harus ngebentuk kelompok belajar bersama agar kegiatan belajar kita bisa efektif dan nggak cuma di sekolah.” Jawab Vera sambil berusaha tersenyum.
“Aku setuju…” ujar Citra diikuti anggukan setuju pula dari Karin.
“Tapi, nggak seru kalau cuma kita bertiga. Gimana kalau kita ajak Nia dan Dhea…?” usul Karin.
“Terserah kalian aja dech…” ujar Vera.
Mereka kemudian mengikuti pelajaran hari itu dengan serius. Dan sepulang sekolah, Vera, Citra, dan Karin mengutarakan niat mereka untuk mengajak Nia dan Dhea bergabung dalam kelompok belajar mereka. Dan ajakan tersebut disambut dengan riang oleh mereka.
“Ver…kita belajarnya di rumah kamu aja yah. Rumah kamu kan luas, jadi pasti bisa nampung kita.” Usul Nia.
“Iya. Lagipula, di rumah juga nggak ada siapa-siapa kok. Cuma ada aku dan Mama. Siapa tahu, dengan kehadiran kalian, rumahku bisa jadi rame. Yah, ibarat kata hadirnya dirimu  kan berikan suasana baru dalam hariku” Jawab Vera sambil tersenyum.
“Ok. Sekarang kita tinggal ngatur jadwalnya aja.” Kata Dhea.
“Aku nggak bisa hari senin dan rabu. Soalnya ada kursus bahasa inggris.” Ujar Citra.
“Aku juga nggak bisa kalau hari rabu. Aku kan lagi kursus Matematika.” Timpal Karin.
“Kalau aku sich belakangan ini, lagi nggak ada kegiatan. So, hari apa aja bisa.” Nia ikut angkat bicara.
“Kalau kamu Dhe…?” Tanya Vera sambil melihat ke arah Dhea.
“Aku sama kok kayak Nia. Kapan aja bisa.”
“Mmmh…berhubung hari jum’at aku kursus bahasa inggris dan setiap senin aku ngajar anak-anak ngaji, jadi jadwal bisa hari selasa, kamis, dan sabtu. Gimana…?” Vera memberi usul.
“Ok dech…” jawab yang lainnya serempak.
Setelah selesai mengatur jadwal yang ditetapkan, mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing. Kebetulan hari itu, Vera nggak bawa motor, jadi dia nebeng sama Karin.
“Vera… kamu kenapa nak…? Kamu kelihatan pucat.” Tegur Mamanya ketika Vera baru pulang dan berjalan menuju kamar sambil memegang kepalanya.
“Nggak apa-apa kok Ma. Aku Cuma sedikit pusing. Mungkin karena cuaca yang sangat panas.” Jawab Vera sambil berusaha tersenyum karena, dia tak ingin membuat Mamanya merasa cemas.
“Kamu sudah makan obat…?”
“Udah tadi di sekolah. Mama nggak usah khawatir yah. Aku baik-baik aja kok. Aku cuma kurang istirahat. Di sekolah juga lagi banyak tugas.”
“Ya sudah. Sekarang kamu makan yah nak.! Setelah itu kamu tidur. Biar perasaan kamu bisa lebih enakan.”
“Iyah Ma.”
Vera kemudian mengganti seragam sekolahnya kemudian makan siang bareng Mamanya. Selepas makan, Vera lalu memberitahu Mamanya tentang kelompok  belajar yang baru dia bentuk. Dan Mamanya pun setuju dengan  keinginan Vera yang mengajak temannya belajar di rumah mereka.
***
                Ujian semester kurang lebih 1 minggu lagi. Vera dan kawan-kawannya sudah siap dengan matang untuk menghadapi ujian nanti. Namun, teman-teman Vera merasa heran karena sudah satu minggu lebih Vera tidak masuk sekolah. Menurut surat yang disampaikan kepada guru, Vera sedang sakit. Tapi, mereka tak tahu Vera sakit apa. Karena selama ini Vera kelihatan baik-baik saja. Kalau pun sakit, paling cuma dua atau tiga hari saja. Itu pun hanya sakit ringan.
“Vera sakit apa yah…? Nggak biasanya dia sakit sampai berhari-hari kayak sekarang.” Ujar Citra.
“Iya nich. Padahal semester bakal dilaksanakan minggu depan.” Tambah Dhea.
“Gimana kalau kita ngejenguk Vera aja. Udah lama juga kita nggak kumpul-kumpul bareng.” Usul Nia.
“Iya nih. Aku juga kangen ama kata-kata puitis anak itu.” Ujar Karin sambil nyengir.
So, kita go-nya kapan…” Tanya Dhea.
“Ntar aja. Pas pulang sekolah. Hari ini kan hari sabtu, jadi kita pulangnya cepet.” Nia kembali memberi usul.
“Ya deh.” Semuanya setuju.
Sepulang sekolah, mereka semua kemudian ke rumah Vera. Berharap bisa bercanda ria kembali dengan sahabat mereka.
“Assalamu alaikum…” seru mereka serempak ketika sampai di depan rumah Vera. Namun, tak ada jawaban. Mereka kemudian kembali memberi salam. Dan tak berapa kemudian, Mama Vera datang sambil menyeka air mata yang berlinang di pipinya.
“Wa’alaikum salam…” jawabnya dengan terbata.
“Ada apa tante…? Tante kok nangis…? Vera di mana…?” Tanya Citra dengan perasaan khawaatir. Namun Mama Vera tak menjawab dia hanya terus diam dalam tangisannya yang membuat Citra, Karin, dan Nia heran campur khawatir.
“Tante tenang dulu yah. Kita ke sini cuma mau ngejenguk Vera kok.” Nia mencoba menenangkannya.
“Kalau kalian mau ngejenguk Vera, dia ada di kamarnya.” Ujar Mama Vera dengan terbata dan menuntun keempat gadis belia tersebut ke kamar Vera. Namun, apa yang Citra, Karin, Nia, dan Dhea liat sungguh membuat mereka kaget. Vera tengah terbaring tak berdaya di atas kasurnya dengan selang infus yang ada di pergelangan tangannya.
“Vera kenapa tante…? Apa yang terjadi sama dia…?” Tanya Citra yang tak sanggup menahan air matanya saat berdiri tepat di hadapan sahabatnya.
“Sudah 5 hari Vera terbaring koma. Tapi, dia tak mau di rawat di rumah sakit. Dia bersih keras mau di rawat di rumah. Sebenarnya, selama ini Vera mengidap penyakit kanker otak. Tapi, dia selalu melarang tante untuk memberitahukannya ke kalian. Dan dokter memvonisnya hanya bisa bertahan sampai Desember tahun ini.” Jelas Mama Vera dengan air mata yang bercucuran.
“Astagfirullah hal adzim…” desis mereka berempat hampir bersamaan.
“Vera… kenapa kamu nggak pernah bilang ke kita kalau kamu itu sakit. Kenapa Ver…? Kita kan sahabat…? Tapi, kenapa kamu nyembunyiin hal ini dari kami…” ujar Karin sambil menangis dan menggenggam tangan Vera.
“Vera…bangun…!!! Kamu harus kuat. Kita selalu ada buat kamu. Kita semua sayang sama kamu Ver. Kita nggak mau kehilangan kamu…” lanjut Nia. Setelah mendengar kata-kata Nia, tiba-tiba saja jari tangan Vera bergerak dan Vera perlahan membuka matanya.
“Vera…kamu sadar nak.” Ujar Mamanya sambil mendekat ke arah Vera.
“Ma..Mama…” ujar Vera dengan terbata dan suara yang terdengar parau.
“Iya sayang… Mama di sini. Di sini juga ada sahabat-sahabat kamu. Mereka mau ketemu sama kamu. Katanya kamu harus kuat.” Mama Vera kembali tak dapat menahan air matanya.
Guys…maafin aku yah…” ujar Vera lagi.
“Ssssstt…kamu nggak perlu ngomomg apa-apa Ver. Kita udah tahu. Sekarang kamu yang semangat yah.” Ucap Dhea dalam isak. Vera yang tak mampu bersuara lagi, hanya bisa memaksa dirinya untuk tersenyum. Tiba-tiba saja Vera berusaha mengangkat kepalanya dan mengambil sesuatu di bawah bantalnya. Dan ternyata itu adalah sebuah surat. Vera kemudian menyerahkan surat tersebut kepada Citra dengan tangan yang bergetar.
“Aku pengen kalian baca surat itu.” Ujar Vera dengan terbata-bata.
“Iya Ver. Kita akan baca surat ini.” Jawab Citra sambil meraih surat yang disodorkan Vera.
“Ma…temen-temen…aku mau tidur dulu yah. Aku capek. Aku mau istirahat dulu. Kalian jaga diri baik-baik.” Ucap Vera lagi sambil menutup kedua matanya. Mama dan temam-temannya hanya bisa mengangguk dan menangis mendengar perkataan Vera. Perkataan terakhir yang keluar dari mulut Vera. Karena beberapa saat setelah itu, Vera telah menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan semua orang yang mengasihinya. Mama dan sahabat-sahabatnya hanya bisa menangisi jasad Vera yang telah terbujur kaku. Tak lama setelah itu, Citra pun membuka amplop surat yang diberikan oleh Vera dan membacanya bersama semua.
Dear My Friend…
Guyz…
Maafin aku yah. Aku nggak bermaksud menyembunyikan tentang penyakitku ke kalian. Aku cuma nggak mau kalian khawatir dengan keadaanku. Aku juga nggak mau kalian mengasihani aku. Aku mau kalian menganggap aku sebagai Vera yang sehat, kuat, dan ceria. Bukan Vera yang sakit-sakitan.
Guyz…
Aku sayang banget ama kalian. Kalian ibarat bumi bagi aku. Aku nggak akan bisa hidup tanpa kalian. Tawa dan canda kalian selalu bisa membuat aku tersenyum dan semangat. Mungkin tanpa kalian aku udah lama menyerah. Tapi aku selalu ingin hidup. Hidup untuk tetap bersama kalian hingga Desember tahun ini.
Guyz…
Mungkin aku nggak bisa bertahan sampai semester nanti. Tapi aku mau kalian tetap semangat. Walau tanpa aku, kalian harus bisa dapat nilai yang maksimal. Dan kalian tahu, aku tuch seneng… banget…! Karena pada penantianku tahun ini, kalian menemaniku menanti  Desember. Hari-hari yang kita lalui bersama beberapa waktu ini membuat aku merasa hidup ini begitu indah dan berarti. Rasanya, aku masih ingin menikmati hari-hari bersama kalian. Tapi, waktu aku nggak banyak. Dan aku harus pergi. Pergi meninggalkan dunia fana ini. Membawa sejuta kenangan indah yang kita miliki dan takkan pernah kulupa hingga kelak aku menutup mata.
Guyz…
Tiga tahun aku menanti Desember. Dan Desember tahun ini aku benar-benar  harus pergi. Maaf jika selama ini aku terlalu banyak mempunyai kesalahan terhadap kalian. Terima kasih untuk semua kenangan indah yang telah kalian berikan padaku. Makasih dan selamat tinggal.
Much Love
Vera
Setelah membaca surat tersebut, mereka semua lag-lagi tak dapat membendung air matanya. Mereka terus menangisi kepergian Vera.
Kini Vera telah tiada. Sang pujangga telah pergi. Pergi dengan tenang menghadap sang khalik. Penantian Vera telah berakhir. Desember telah menjemputnya tepat pada tanggal 3 Desember. Saat usianya menginjak 17 tahun. Vera kini telah tenang di sisi-Nya. Kini dia telah tersenyum dalam tidur panjangnya. Tak ada yang dapat mencegah kepergian Vera. Bahkan, waktu pun tak dapat menghentikannya.
Rembulan…
Temani aku malam ini
Aku sedang menanti Desember
Rembulan…
Dalam keremangan malam
Aku ingin kau menyinari hatiku yang redup
Rembulan…
Jangan pernah tinggalkanku
Dan tetaplah menemaniku
Menanti Desember…
Mama Vera menemukan puisi itu di sela buku diary Vera. Puisi yang setiap malam dilantunkan Vera semasa hidupnya. Kini Vera telah tersenyum di samping rembulan. Rembulan yang senantiasa memenaninya menanti Desember.

Cerpen Remaja: SAHABATKU CINTAKU


http://loverakiz.blogspot.com/
SAHABATKU CINTAKU


Kamu, orang yang membuatku nyaman, dan bahagia. Selalu menjagaku tanpa lelah. Tetapi rasa ini sungguh menyiksaku, menunggu kepastian tanpa balasan. Dia sahabatku, tapi dia juga nafasku, dia Dicky Aprilio. Sejak pertama aku kenal dia, tatapannya itu masih teringat jelas di memoriku, senyumannya membuatku tenang dan damai  dia selalu menjagaku kapanpun dan dimanapun, setiap aku down dia selalu memegang erat tanganku dan membuatku bangkit lagi.

Mungkin aku terlalu egois terlalu berharap untuk memilikinya, tapi aku tak bisa selalu berpura-pura untuk tidak mencintainya. Tapi disisi lain kalau emang kita jadian aku TAKUT, aku sangat takut kehilangan dia, aku gamau dia hilang dari mata dan hatiku. Tapi di sisi lain juga aku pengen banget milikkin dia, supaya semua orang tau dia milik aku bukan milik orang lain.

Aku selalu menahan rasa sakit ini ketika teman-temanku menanyakan kedekatan ku dengan dicky selama ini, aku sakit ketika aku harus bilang “ bukan, dia hanya temanku.” Dan merekapun menjawab “padahal udah cocok banget, jadian aja.” Aku hanya membalas dengan senyuman. Tapi perlahan masalah itu sudah menjadi hal yang biasa untukku. Karna Dicky mengajarkanku untuk bertindak dan bersikap yang dewasa. Aku ga berani bilang Dicky adalah segalanya buat aku, karna aku takut segalanya aku hilang.

Aku berusaha menjadi wanita yang dewasa yang ingin selalu berfikiran positif, jadi aku kadang berpikir kalau hubungan aku sama Dicky sekarang jauh lebih bahagia  aku takut jika kita pacaran lalu putus dan gak bisa deket lagi, mending betemen kaya sekarang dan dia gak akan ninggalin aku, kecuali dia mempunyai cintanya yang baru.

D-I-C-K-Y seseorang yang paling berharga buat aku sekarang, andaikan aku mampu berkata di depannya bahwa aku sayang dia dan gamau kehilangan dia mungkin aku akan jauh lebih tenang, tapi beberapa kali aku mencoba untuk mengatakannya malah yang ada hanya gemetaran yang ku rasa, mungkin belum saatnya aku berkata seperti itu.

Tawa dan candanya adalah warna di hidupku, aku tak ingin semuanya berlalu begitu cepat. Dicky juga adalah salah satu alesan yang membuatku betah di masa SMA yang dulu yang aku anggap biasa aja. Aku sekarang masih duduk manis di sampingnya menjadi teman biasa, entah akankah posisi itu berubah, akupun tak tahu

Jumat, 13 Juli 2012

cerpen.... Cinta Berbatas Logika





MALAM telah sangat larut. Ayu belum juga bisa tidur. Pikirannya masih berkutat pada keinginan suaminya untuk menikah lagi. Istri mana yang tak syok dimintai izin suaminya seperti itu. Dilihatnya Dedi, suaminya, telah tidur pulas di sampingnya. Dia cermati wajah suaminya. Laki-laki berumur 40 tahun ini memang ganteng, tak berbeda seperti saat pertama kali Ayu mengenalnya dulu. Karena rajin berolah raga, tubuhnya juga atletis, tidak berperut gendut seperti laki-laki seusia dia lainnya. Rambutnya juga masih hitam belum ada selembar uban pun di kepalanya. Ah, perempuan mana yang tak akan tergoda dengan wajah ganteng seperti itu, apalagi dengan kedudukan dan kekayaan yang dimilikinya.
Ayu kini merasa tidak sebanding dengan suaminya itu. Mengapa Tuhan menciptakan dia dengan berbagai penyakit seperti ini sedangkan perempuan yang lain bisa menikmati kehidupannya yang indah? Selama ini Ayu terlalu percaya pada keajaiban cinta, seperti halnya kisah hidup seorang penderita lupus yang begitu dicintai suaminya hingga suaminya tak ada keinginan untuk menikah lagi.
Sang suami begitu setia merawat istrinya bahkan rela untuk tidak mempunyai anak karena sang istri harus diangkat rahimnya akibat digerogoti oleh penyakitnya. Kisah hidup mereka pun diabadikan dalam sebuah buku Miracle of Love, Keajaiban Cinta. Tapi, mengapa suami Ayu tak bisa seperti suami dalam kisah di buku itu? Itulah kini protes yang Ayu ajukan pada Tuhan.
Ayu kembali lagi ke dalam pikiran kalutnya. Sudah seminggu ini suaminya menanti jawaban darinya atas opsi yang ditawarkannya. Ini adalah malam terakhir baginya untuk berpikir karena besok pagi dia harus memberikan jawaban. Ya, suaminya hanya memberinya waktu satu minggu untuk berpikir. Opsi itu adalah dia mengizinkan suaminya menikah lagi atau dia memilih dicerai. Kalau Ayu memilih cerai, maka suaminya akan memberikan kompensasi sebuah rumah mewah lengkap beserta isinya dan sebuah kos-kosan elite 20 kamar sebagai modal hidupnya.
Ayu tahu bahwa sebenarnya suaminya adalah suami yang bertanggung jawab dan menyayangi dia. Suaminya hanya meminta pengertian Ayu agar dia bisa menikmati juga kebahagiaannya sebagai laki-laki. Ayu teringat kata-kata suaminya kepadanya seminggu yang lalu.
“Ma, aku laki-laki normal. Aku butuh seorang istri yang bisa mendampingiku di setiap saat. Aku tidak kuat kalau setiap hari harus menghadapi istri yang sakit-sakitan seperti Mama. Aku ingin menikah lagi, Ma. Aku telah mempunyai calon. Mama sudah kenal perempuan itu, dia adalah Fitri.” Ayu betul-betul kaget waktu itu, tidak mengira bahwa kedekatan suaminya dengan Fitri selama tiga tahun terakhir ini ternyata membuahkan perasaan yang spesial di antara mereka.
Ayu mengenal Fitri sebagai seorang gadis mapan pimpinan sebuah cabang bank pemerintah yang usianya tiga tahun di bawahnya. Selama ini, Fitri telah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Ayu tidak tahu mengapa di usianya yang ke-35 Fitri belum juga menikah. Kini Ayu tahu jawabannya, ternyata Fitri dulu pernah menjadi pacar Dedi. Mereka putus karena Fitri memilih melanjutkan studi ke Australia setelah lulus SMA. Setelah kembali ke Tanah Air, Fitri bekerja di sebuah bank pemerintah dan kariernya terus menanjak hingga akhirnya kini menjadi pimpinan cabang yang kantornya dekat dengan kantor Dedi. Dan, cinta mereka mekar kembali sejak pertemuan mereka kembali tiga tahun lalu.
Selama ini, Ayu tak pernah berprasangka apa-apa setiap kali suaminya mengajak main ke rumah Fitri, atau sebaliknya Fitri yang main ke rumah mereka. Hubungan mereka bertiga juga baik, apalagi mengingat bahwa Fitri adalah putri dari sahabat ayah mertuanya. Ayu juga tahu bahwa Fitri adalah gadis yang baik, yang selalu menjaga hubungan baik dengan siapa saja.
Ingin rasanya Ayu kembali ke masa lalu di saat cinta Dedi hanya untuknya. Dulu memang Ayu adalah gadis yang cantik, cerdas, dari keluarga kaya, dan mahasiswi kedokteran di sebuah kampus terkenal. Maka, tak heran jika dulu Dedi yang waktu itu berstatus sebagai mahasiwa Fakultas Hukum di kampus yang sama dengan Ayu, begitu memuja dan mengejarnya. Sampai akhirnya Dedi berhasil mengalahkan beberapa pesaingnya dan mempersunting Ayu setelah Ayu meraih gelar dokter dan Dedi telah menjadi seorang notaris.
Selain membuka praktik di rumah, Ayu juga menjadi dosen di suatu universitas pendidikan. Di tahun-tahun pertama pernikahannya, kehidupan Ayu sangat bahagia. Memiliki suami seorang notaris yang ganteng, sekaligus pemilik beberapa perusahaan kecil warisan keluarga. Meski kecil, tapi ketiga perusahaan yang dimiliki sang suami yang anak tunggal itu telah memberi mereka kehidupan yang berkecukupan. Kebahagiaan bertambah lengkap seiring kehadiran tiga buah hati mereka. Ah, Ayu sangat bahagia mengenang kembali masa-masa indah itu.
Masa berganti hingga kebahagiaan itu pelan-pelan memudar. Sebagai seorang dosen, Ayu dituntut melanjutkan studi ke jenjang S2. Namun, saat menyelesaikan tesis, Ayu terkena depresi. Ternyata hal itu memicu munculnya penyakit pada diri Ayu. Jika sedang depresi, dia seperti hilang ingatan. Pikirannya kosong, bahkan sampai tak bisa merawat dirinya sendiri.
Meski akhirnya dia bisa menyelesaikan S2-nya, tetapi semenjak itu masalah apa pun yang dirasa cukup berat baginya, bisa menjadikannya seperti orang hilang ingatan. Akhirnya, Ayu pun menjadi tergantung pada obat-obat penenang. Seorang psikiater menjadi langganannya setiap kali dia depresi. Kurangnya merawat diri dan efek dari obat-obat penenang membuat badan Ayu menjadi tambun, hingga berbagai penyakit menghinggapinya, mulai dari darah tinggi, diabetes, lemah jantung, dan asma. Meskipun dia masih bisa bekerja, tetapi sering kali aktivitasnya terganggu sehingga dia tidak bisa optimal dalam berkarya, baik sebagai seorang dosen maupun sebagai seorang dokter.
Suaminya memang tetap menyayanginya, tetapi dia jadi lebih suka pergi sendiri ke mana-mana tanpa mengajak Ayu. Dia lebih suka beraktivitas dengan teman-temannya dan tenggelam dalam kesibukannya. Ayu memang diberikan kemewahan oleh suaminya. Ada mobil mewah dan seorang sopir yang siap mengantar ke mana pun Ayu pergi. Ada tiga pembantu dan seorang tukang kebun yang siap melayaninya di rumah yang besar dan mewah. Tetapi, hati Ayu semakin hari semakin gersang. Kemesraan suaminya dirasakannya semakin hari semakin berkurang.
Ayu terbangun dari lamunan ketika suaminya menggeliat mengubah posisi tidur. Sesaat kemudian, Ayu mulai berpikir lagi. Dia teringat nasihat ayahnya saat Ayu mengutarakan permasalahannya tiga hari lalu.
“Ayu, kalau kamu kuat, sabar, dan ikhlas maka bagimu adalah pahala dan surga sebagai balasannya. Tetapi, kalau kamu tidak bisa menjalaninya, maka bercerai adalah pilihan yang terbaik agar kamu tidak terjebak dalam dosa jika tidak bisa ikhlas dan sabar dalam menjalani kehidupan poligami itu.
Seandainya kamu memilih bercerai, siapkah kamu berpisah dari suami dan anak-anakmu, dan hidup sendiri? Memang secara ekonomi kamu tidak akan kekurangan nantinya, tapi kamu akan merasa kesepian. Hak perwalian anak sudah pasti akan jatuh pada Dedi mengingat kondisimu yang seperti ini. Jadi, pertimbangkan masak-masak. Ayah lihat Dedi adalah suami yang bertanggung jawab. Dan, Ayah yakin dia akan selalu berusaha untuk berbuat adil kepada kedua istrinya nanti.”
Kata-kata bijak ayahnya kembali terngiang-ngiang di telinganya. Ayu mengingat-ingat, memang betul Dedi selama ini telah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab serta sayang pada istri dan anak-anaknya. Mungkin ini semua adalah kesalahannya juga kenapa dia tidak bisa merawat diri hingga dia kini tidak tampak menarik lagi di mata suaminya.
Tak hanya minta pendapat pada ayahnya, Ayu pun kemarin sempat curhat kepada Dina, sahabatnya di kampus tempatnya mengajar. Ayu berterus terang bahwa selama ini dia sangat iri pada Dina. Dina adalah perempuan cantik, tinggi semampai, dan cerdas yang sekarang sedang mengambil program doktor di sebuah universitas ternama.
Menurut Ayu, kehidupan Dina sempurna. Dia mempunyai seorang suami yang begitu mengagumi dan mencintainya, serta dua anak yang manis dan pintar-pintar. Ayu melihat Dina tidak pernah punya masalah seperti dirinya.
“Ayu, tidak selamanya yang kamu lihat sempurna pada diri seseorang itu adalah sungguh-sungguh sempurna. Mungkin aku memang tampak sempurna di mata orang-orang, itu karena Tuhan menutupi aib dan kekuranganku. Orang Jawa bilang, sawang-sinawang,” jelas Dina panjang lebar. “Tahukah kamu bahwa aku sebenarnya juga punya masalah dalam rumah tangga, tapi aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, termasuk juga kepadamu, Ayu. Semuanya cukup aku dialogkan pada Tuhan. Tidak ada manusia yang sempurna, Ayu, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan,” sambung Dina mencoba menasihati sahabatnya.
“Tapi fisikmu kan sempurna, suamimu juga sangat mencintaimu, tidak pernah menduakanmu,” balas Ayu bernada protes.
“Memang, tetapi setiap manusia oleh Tuhan diberi ujiannya masing-masing. Bukankah belum beriman seseorang sebelum dia diuji oleh Tuhannya? Ayu, secara ekonomi hidupmu jauh lebih beruntung dariku. Suamiku tidak seberuntung suamimu. Gaji suamiku bahkan tidak lebih banyak dari gajiku. Itulah ujian bagi rumah tangga kami. Yang terpenting adalah rasa syukur kita pada Tuhan,” sambung Dina lagi dengan nada sabar.
Ayu merenung saat mengingat kembali mengingat nasihat dari sahabatnya itu kemarin. Dia tersadar bahwa setiap orang tidak ada yang memiliki kehidupan sempurna. Dia kemudian ingat Ely, temannya yang mempunyai anak dengan keterbelakangan mental. Ayu tidak pernah mendengar Ely mengeluh sedikit pun atas ujian Tuhan ini. Dia tetap menganggap anaknya adalah karunia Tuhan yang harus tetap dia sayangi dan dia besarkan tanpa rasa malu.
Pernah suatu hari Ayu melihat Ely mengajak anaknya pada acara resepsi pernikahan teman sekantornya. Ely tanpa malu-malu memperkenalkan anaknya itu kepada teman-teman kantornya. Mengingat itu semua Ayu jadi tersadar bahwa tak sepantasnyalah dia protes pada Tuhan atas segala ujian yang harus dijalaninya selama ini.
Dalam kegelisahan yang sangat hebat, akhirnya Ayu memutuskan untuk beringsut dari kamar, mengambil air wudhu dan kemudian shalat. Telah sekian lama dia tidak melakukannya semenjak sering protes pada Tuhan atas semua penyakit yang dideritanya. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya kini selain pasrah kepada Tuhan, meminta petunjuk-Nya. Selesai shalat, Ayu berdoa sambil menangis memohon agar Tuhan memberinya petunjuk untuk mengambil keputusan yang terbaik. Ayu berdoa sangat lama sampai dia merasa capai dan tertidur di ruang shalat, masih dengan mukenanya.
Ayu terbangun saat terdengar azan Subuh, hanya dua jam setelah matanya terpejam tadi. Sekejap kemudian Ayu tersadar bahwa pagi ini dia harus menyampaikan keputusan pada suaminya. Entah mengapa, dalam hatinya kini dia merasa mantap untuk mengizinkan suaminya menikah lagi dengan Fitri, apa pun yang terjadi nanti.
Dia percaya Tuhan akan selalu membimbingnya untuk selalu sabar dan ikhlas. Dia lupakan kisah tentang keajaiban cinta karena yang ada di depannya kini adalah cinta yang berbatas logika. Dan, itu yang dia rasakan pada cinta suaminya terhadap dirinya.

cerpen...Surga dalam Pistol




BAYANGAN penjahat tersungkur berkelebat di benaknya. Entah di bagian mana peluru bersarang, yang jelas ia telah menembak dengan benar. Sesuai prosedur. Sebutir timah panas telah merobohkan tubuh penuh tato itu. Jeritnya melengking ke langit membelah malam.
Peristiwa itu terjadi beberapa bulan lalu. Ketika mendapat tugas melumpuhkan sekelompok rampok. Sejak itu, ia merasakan sebagai aparat sejati. Membasmi kejahatan, menjaga kedamaian. Itulah cita-cita sejak kecil. Ketika tokoh-tokoh dalam film yang pernah ditontonnya menjadi pahlawan dalam kepalanya.
Tapi semua itu adalah tugas. Kedamaian yang ia impikan justru tak terjadi dalam dirinya. Ia gundah gulana hingga hari ini. Sebuah rindu dan dendam berkecamuk bercampur cemburu.
Ia pandangi pistol di hadapannya. Tepat di atas meja berkaca hitam. Ia genggam lalu diangkat. Ia berdiri tegap. Matanya memicing. Kedua tangannya memegang kuat. Arahnya ke depan. Sebuah cermin yang ada bayangan dirinya. Lama seperti itu, ia turunkan lagi. Dan ia duduk lunglai.
Sabar mana lagi yang aku miliki? Haruskah ada yang tergeletak di halaman? Telah aku ulur hingga habis benang. Kau tak juga mengerti. Kau tutup rapat hatimu. Beku. Membatu.
Apakah tak ada lagi sisi baik dari hubungan kita ini? Apa memang semua harus patah arang? Kenapa tak patah tebu saja? Apa tak pernah kau pertimbangkan lagi masa depan yang pernah kita impikan bersama? Bukankah aku telah memberikan semua hidupku sebagai tanda betapa aku ingin membangun mahligai rumah tangga yang kita impikan bersama? Sungguh tak ingin menghitung pengorbanan itu dengan cara matematika.
Enam bulan lalu, ia mengajak istrinya, Janna, pindah dari rumah mertua. Ia sudah tak tahan lagi ingin merasakan sebagai nakhoda dalam sebuah kapal yang ia layarkan. Kapal kecil sarat kebahagiaan dan kedamaian. Walau hanya menempati rumah kontrakan, ia ingin sekali merasakan benar-benar sebagai seorang lelaki. Seorang ayah, seorang suami. Selama ini ia belum merasakan hal demikian. Tinggal di rumah mertua, ia merasa sebagai penumpang.
Itulah pangkal segala perih yang dirasakan menyempurnakan kekejaman terhadap jiwa. Sungguh ia tak menyangka, semuanya menjadi runyam.
Kita sudah suami istri. Kau anggukkan kepalamu waktu akad itu terjadi di suatu pagi. Jadilah kita sepasang anak manusia yang saling menerima apa adanya. Tapi kenapa kau tak mau lepas dengan keluargamu? Bukankah itu sangat keliru? Kau anggap aku akan memisahkan engkau dari ibumu, tetapi, ayolah, kita harus mandiri dan mencoba merentang sayap. Terbang bersama.
Ia patahkan pistol itu untuk meraih peluru di dalamnya. Ada. Tiga butir peluru bersarang diam dalam lubang. Sementara lubang yang lain terlihat kosong. Refleks dan mahir, pistol itu terlihat siap tembak kembali. Seperti di film cowboy. Bunyi lipatan pistol itu menyeruak dalam kesepian. Traakk!
Dan ibu jari kanan laki-laki itu mengangkat pelatuk belakang pistol, lalu ia kembalikan secara semula. Tak jadi.
Aku telah mengadu persoalan ini kepada orang yang wajib menuntaskannya. Kepada pamanmu, kepada keluargamu yang lain di luar rumahmu itu. Juga kepada orang-orang di mana urusan keluarga besar dikabarkan dan diurus hingga selesai. Ketika urusan kita mulai diselesaikan, kau justru angkat senjata dengan sanak saudaramu itu. Kau ternyata melawan, begitu juga dengan ayah ibumu itu. Setali tiga uang.
***
Ia orang muda yang gagah. Dengan nama di dada tertera Edola Septiawan. Jadi aparat keamanan setelah melewati seleksi yang ketat. Lulusan terbaik yang membanggakan keluarga. Saat bertugas, di suatu tempat, ia mengenal seorang gadis yang rupawan. Berkerudung dan cantik. Guru sekolah menengah pertama. Noor Janna, itulah namanya. Perempuan yang telah memberikan seorang puteri cantik, Rezi Septiawan.
Betapa tersiksa aku tak memeluk anakku dalam enam bulan terakhir ini. Kau begitu laknat menjauhinya dariku. Kau bohongi dia dengan mengatakan ayahnya sedang tugas jauh, padahal kita masih satu kota. Aku makin membencimu pada sisi lain. Dan sangat merindukanmu pada sisi lainnya.
Wajah Edola terlihat kalut. Bergelayut masalah yang membuat seluruh wajahnya sangat lelah. Ia angkat lagi pistol itu lalu ia dekatkan pangkalnya ke pipi. Matanya memicing. Moncong pistol itu menghadap ke depan. Tepat ke sebuah cermin yang ada bayangan tubuhnya yang sedang duduk pongah di balik meja kerjanya. Ingin sekali ia menuntaskan persoalan yang ada dalam kepalanya.
Bukan aku tak mau mengambil jalan pintas dari hubungan kita ini. Aku begitu sayang kepadamu dan anak kita. Aku begitu menghormati keluarga besarmu. Apakah kau tak menyadari itu? Ke mana semua kenangan indah kita itu? Kenapa begitu cepat engkau lupakan? Siapa pula yang cepat mengisi hatimu? Menggantikan aku.
Ia mendengar kabar, istrinya sudah akrab dengan seseorang di tempat ia mengajar. Sebagai seorang guru, perempuan muda yang cantik dan lincah, ia akrab dengan beberapa orang guru, termasuk kepala sekolah. Sering pergi berduaan dengan alasan tugas untuk keluar sekolah. Sering keluar masuk ruang kepala sekolah. Hal yang tabu bagi guru lain. Inilah yang menjadi bahan gunjingan seluruh sekolah dari polahnya yang ganjil itu.
Aku cemburu. Tahukah kau? Tak ada asap kalau tak ada api. Minimal apa yang kau perbuatkan di sekolah, atas segala sikap dan pergaulan, pastilah sudah bergelanggang di mata orang banyak. Apalagi sebagai seorang guru. Sedikit saja sumbang dari perlakuan umum pastilah menjadi sorotan dari masyarakat di sekelilingmu. Apakah kau menyadari itu?
Ia kembali meletakkan pistol ke atas meja. Lalu ia mengotak-atik telepon seluler. Tertera foto Rezi. Anak perempuan semata wayang. Foto itu ia pandangi lekat-lekat. Balita itu sedang tersenyum manis. Betapa ia merindukan anak perempuan itu. Tapi, bagaimana bisa bertemu jika pintu rumah mertua sudah tertutup untuknya?
Kedua orang tuamu begitu mendominasi hidupmu, sehingga kau tak mendengar apa yang aku katakan sebagai seorang suami. Padahal, aku berkewajiban untuk membimbingmu sebagai imam. Ah, kau seorang guru yang tak patut aku gurui. Tapi kau tak pernah menyadari, betapa kau sangat kanak-kanak urusan seperti ini. Atau kau terlalu banyak menonton infotainment di televisi yang bercerita tentang kebanggaan artis untuk gonta-ganti pasangan? Bangga membuang suami lalu merebut suami orang? Ah, semoga prasangkaku tak sejauh itu.
Noor Janna. Nama yang melesat. Tamat kuliah langsung mendapat kesempatan menjadi guru di tengah ketatnya ujian masuk menjadi guru. Ia memang cantik dalam banyak hal. Berprestasi. Menonjol. Awalnya, Edola merasa sangat beruntung mempersunting perempuan ini. Seperti mendapat cahaya dari surga.
Kau belum dewasa. Pun mungkin aku. Kita masih terlalu kanak-kanak untuk saling mengerti. Ditambah lagi, biduk kecil kita dirasuki oleh orang lain. Ayah dan ibumu. Bukankah kita telah menyatu dan tak ada yang boleh ikut lebih dalam, dalam kehidupan kita?
Hari-hari sebelum Janna kembali ke rumah orang tuanya. Edola sudah merasakan gersangnya hidup di kontrakan. Ia tak merasakan bidadari seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Janna merana. Diam tak mau banyak bicara. Wajahnya mendung. Edola mencoba memberi pengertian. Tapi percuma.
Aku sangat menghormati ayah dan ibumu sebagai mertua. Tapi ayah dan ibumu ternyata menyalahkan aku atas kepindahan kita. Padahal, awalnya sedikit pun aku tak pernah memaksa. Aku membicarakan jauh hari demi kemandirian dan masa depan kita.
Suasana kantor yang sepi. Senja mulai merayap. Ia belum berselera untuk pulang. Percuma pulang ke rumah kontrakan, bila sepi makin menyengat hatinya. Tubuhnya ingin beranjak tapi hatinya belum juga. Masih juga ia tenggelam di kursi. Tak juga berdiri. Ingin sekali ia mendapat telepon dari pimpinan untuk sebuah tugas penggrebekan. Sebab dengan demikian ia bisa melampiaskan seluruh emosinya. Menangkap penjahat. Susahnya, penjahat di dalam kepalanya tak bisa ia tuntaskan dengan apa pun. Sebagai aparat keamanan, ia percaya diri untuk mengamankan dunia. Hanya, untuk persoalan diri sendiri, ia merasa bodoh!
Kau ternyata materialis! Sosok perempuan pintar yang salah jalan. Silau dengan materi. Tidak mengerti tentang kesetiaan, kebahagiaan yang lahir dari batin. Kau ternyata bukan jalan surga abadi seperti yang aku bayangkan selama ini. Aku telah tertipu dari penampilanmu selama ini.
Ia lihat wajahnya di cermin. Betapa kuyu. Hari-hari telah tak menentu. Membuatnya hanyut dalam perih yang paling deras. Ia menyesali telah menjalani kehidupan seperti ini. Padahal, awalnya semua begitu manis.
Kau ternyata hanya fatamorgana. Aku kejar-kejar tak pernah dapat. Aku selam-selam tak pernah sampai. Kau perempuan keparat yang pernah aku kenal. Terimalah cintaku dan sejarah panjang yang kelam nantinya.
Edola lagi-lagi menghadapkan pistolnya ke kepala sendiri. Pelatuknya sudah siap ditekan. Ia pejamkan mata dengan lambat. Di benaknya, ada kilauan cahaya surga menyelinap dari moncong pistol. Tapi ia tak menekan pelatuknya. Ia bayangkan anak dan istrinya tersenyum.
***
Aku bukan perempuan jalang seperti yang dianggap orang! Tapi mengertikah kau, aku seorang perempuan biasa? Tak boleh sesiapa yang meremehkan itu. Sebagai anak tertua yang menjadi harapan ayah dan ibu, tak boleh ada yang menjajah kebebasanku.
Belasan kilometer ke arah utara dari kantor Edola, seorang perempuan menyetir sedan. Berkerudung. Berkaca mata hitam bulan dan lebar. Modis. Mulutnya mengikuti alunan lagu penyanyi luar negeri. Sangat menikmati perjalanan. Seorang bocah perempuan di samping sedang memegang boneka. Ayah ibunya duduk di belakang sedang bercakap-cakap. Lagu terus mengalun. Sepertinya perjalanan jauh segera dimulai.
Aku masih sayang kepadamu. Tapi memisahkan aku dengan ayah dan ibu bukan hal yang baik menurutku. Sebab, rumah ayah dan ibu hanya kami berempat awalnya. Rumah itu besar. Jadi, tak perlu rumah kontrakan. Kita cukup tinggal di situ bersama. Kita bisa ramai ada ayah dan ibu, dirimu, Rezi dan Arai adikku. Jadi, sulit sekali aku menerima ajakan untuk hidup di kontrakan. Susah. Soal aku dekat dengan beberapa guru di sekolah, juga dengan kepala sekolah, apakah mesti dicurigai? Ah terserahlah. Aku ingin hidup bebas.
Ia tampak mahir menyetir. Matanya memandang lurus ke depan. Fokus. Sesekali ke spion kiri kanan dan tengah. Matanya bulat indah tampak serius. Mata itulah yang telah meruntuhkan seluruh kehidupan laki-laki yang ditakluknya. Tapi lama-lama, matanya tampak berair. Sepertinya ada penyesalan atas perjalanan hidupnya. Ia menyimpan itu baik-baik selama ini. Tak mau memperlihatkan pada siapa pun. Namun matanya tak bisa didustai. Ada luka menganga atas keangkuhannya selama ini. Betapa ia telah salah jalan tapi tak mau kembali ke belakang untuk sekadar menghapus keliru.
Buat apa kita kembali jika semuanya telah berubah. Kini sudah begitu runyam. Kita sulit untuk bertemu dalam satu biduk. Dan aku tak siap untuk sekadar menjadi istri. Sudahlah. Cukup sampai di sini.
Senja mengatap. Jingga. Jalan luar kota sangat sepi. Sebuah kendaraan meluncur cepat. Tiba-tiba berhenti mendadak. Berdecit suara ban yang tak berputar. Ada asap tipis mengepul. Bekas ban menghitam di aspal. Di dalamnya, Janna terguncang hebat. Sesuatu ia rasakan di dalam kepalanya. Ia seperti mendengar tembakan tepat di kepalanya. Dor! Janna terguncang hebat. Terasa keluar semua isi di kepalanya. Ayah ibunya panik setengah mati. Sedangkan Rezi menangis sejadi-jadinya. Keluarga itu di jalan yang sepi.
***
Asal kau tahu. Semua ini adalah perjalanan pendewasaan kita yang terlalu pagi mengayuh biduk berdua. Harusnya kita kembali bersama dan bercerita di bawah rambutan tempat kita pernah berdua setiap bulan purnama. Tapi kau, ayah dan ibumu ingin menang sendiri. Padahal sanak familimu ingin kita tetap bersama mengayuh lagi.
Laki-laki itu kembali mengangkat pistol dan mengarah ke kepalanya. Tepat di atas telinga sedikit. Tapi ia belum menekan pelatuknya. Matanya menatap tajam cermin yang membayangi polahnya dari tadi. Malam beranjak datang. Sepi. Cahaya surga berkelibat dari dalam moncong pistol ke dalam pikirannya. Ia merasakan sesuatu yang tuntas, jika pelatuk benda itu ia tekan seperti menembak penjahat. Penjahat itu ada dalam kepalanya. Sebagai petugas keamanan, wajiblah dia membuat semua menjadi aman. Tetapi bila penjahat itu ada dalam kepalanya, haruskah menembak diri sendiri?
***
Banyak sekali yang menyayangkan hubungan mereka harus berkeadaan seperti sekarang. Dulu banyak yang iri melihat kebahagiaan yang mereka rengkuh. Keduanya sudah ada pekerjaan tetap dan terhormat. Membanggakan siapa saja yang tahu tentang mereka. Apalagi orang tua kedua belah pihak.
Percuma pendidikan tinggi kalau ego lebih maju dari pada nalar. Kesombongan, keangkuhan, lupa diri, mencintai materi berlebihan, narsis, dikedepankan dalam kehidupan. Padahal, kita ini hanya orang biasa-biasa saja. Tak lebih. Masih ada langit di atas langit.
Edola kembali mengacungkan moncong pistolnya ke kepala dengan tangan kanannya. Kali ini sangat cepat. Makin yakin apa yang akan segera dilakukannya. Sebentar lagi ia seperti akan melakukannya. Ya, sebentar lagi. Tiba-tiba ia mendengar suara anaknya sangat jelas memanggil.
“Ayah. Ayah. Ayah….”

cerpen... ditaman



“AKU sudah lama tidak jalan-jalan di taman. Aku tak pernah punya waktu senggang. Atau tak hendak lagi.”
“Semua orang juga sama. Setelah bekerja, orang cepat-cepat pulang. Hidup selalu terburu-buru.”
“Kuingat saat kecil, aku sangat suka menyambangi taman ini. Berguling-guling di atas rerumputan.”
“Biasanya aku datang bersama ayah dan ibu.”
“Aku sangat suka taman saat ada anak-anak lain.”
“Ya.”
“Khususnya saat kau juga ada.”
“Aku ingat.”
“Dulu rambutmu dikepang dua.”
“Dulu kau selalu memakai celana jengki, dan kau sangat sombong.”
“Kau tidak ramah, selalu angkuh.”
“Benarkah?”
“Ya, tak ada yang berani melawanmu.”
“Tak ingat. Tapi aku suka main denganmu, bahkan pernah menyepak-nyepak bola karet bersamamu.”
“Omong kosong. Kau tak pernah menyepak bola karet! Kau pernah memakai sepatu putih mungil dan selalu takut mengotorinya.”
“Itu benar, ketika kecil aku suka memakai sepatu karet putih.”
“Kau dulu mirip seorang putri.”
“Tentu. Seorang putri yang memakai sepatu karet.”
“Lalu keluargamu pindah.”
“Betul.”
“Mulanya kau sering berkunjung hari Minggu, tapi kemudian jarang.”
“Aku sudah dewasa.”
“Ibuku sangat suka padamu.”
“Tahu.”
“Tidak ada anak perempuan di keluarga kami.”
“Setiap orang mengatakan kita mirip. Seperti kakak perempuan dan adik laki-laki.”
“Jangan lupa kita seusia. Aku lebih tua dua bulan.”
“Tapi aku nampak lebih tua darimu. Aku selalu lebih tinggi selebar sejengkal, seakan kakakmu.”
“Biasanya, gadis-gadis lebih cepat tinggi. Cukuplah itu, ayo kita bicara yang lain.”
“Lalu, apa yang akan kita bicarakan?”
Jalan kecil di bawah pepohonan itu terapit cemara-cemara Jepang di kedua sisinya. Di lereng di belakang cemara-cemara itu, perempuan muda yang memakai rok dan membawa tas tangan merah itu duduk di bangku batu.
“Duduk dulu sebentar, ya.”
“Baiklah.”
“Matahari akan terbenam.”
“Ya, indah.”
“Aku tak suka keindahan palsu seperti ini.”
“Bukankah kau bilang suka berkunjung ke taman-taman?”
“Itu saat kecil. Aku tinggal di daerah pegunungan. Selama tujuh tahun aku menjadi penebang kayu di hutan-hutan tua.”
“Kau dapat bertahan hidup.”
“Hutan sungguh mengagumkan.”
Perempuan muda yang mengenakan rok itu bangkit dari bangku batu dan melihat ke ujung jalan yang rindang melewati cemara-cemara yang rapi. Beberapa orang muncul dari arah itu, di antara mereka ada pemuda jangkung yang rambutnya jatuh ke pelipis. Melalui pucuk-pucuk pohonan dan tembok, langit berwarna merah dan merah muda matahari terbenam, dan awan beriak mulai menyebar persis ke atas kepala.
“Sudah lama aku tak melihat matahari terbenam yang indah seperti ini. Langit seperti terbakar.”
“Mirip lautan api.”
“Seperti apa?”
“Seperti hutan yang terbakar.”
“Baik, teruslah bicara.”
“Ketika ada kebakaran di hutan, langit persis seperti ini. Api menyebar cepat dan kuat, dan tak ada waktu membabat hutan. Sungguh mengerikan. Semua pohon roboh berterbangan ke udara, dan dari kejauhan kayu-kayu itu kelihatan seperti serpihan jerami mengapung di dalam api, dan macan-macan tutul yang gila keluar dari hutan dan menjatuhkan diri ke sungai, berenang tepat ke arahmu….”
“Tidakkah macan-macan tutul itu menyerang manusia?”
“Mereka telah memikirkannya.”
“Kau tidak menembak macan tutul itu?”
“Manusia juga terkejut. Dari tepi sungai mereka hanya menatap kosong ke arah api.”
“Tidak berbuat apa-apa?”
“Sungai di gunung tak bisa menghentikannya. Pepohonan di sisi lainnya hangus, mulai meretih, dan tiba-tiba pepohonan itu berjela-jela kebakaran. Karena jaraknya lebih dari beberapa lidi sekitarnya sehingga penuh asap dan sangat panas, kau tak dapat bernafas. Kau hanya bisa menunggu angin berubah, meniup api ke arah sungai, menghabiskannya sampai padam.”
Perempuan muda yang memakai rok itu duduk lagi di bangku, dengan tas tangan merah di sampingnya.
“Ceritakan lagi pengalamanmu masa itu.”
“Tidak banyak yang dapat diceritakan.”
“Mengapa tidak ada lagi yang bisa diceritakan? Semuanya sangat menarik.”
“Tapi tak banyak manfaatnya menceritakan itu semua sekarang. Ceritakanlah apa yang kau kerjakan selama ini.”
“Aku?”
“Ya, kau.”
“Aku punya seorang anak perempuan.”
“Berapa tahun?”
“Enam.”
“Mirip seperti kau?”
“Semua orang bilang dia mirip aku.”
“Apakah dia mirip seperti saat kau kecil? Apa dia memakai sepatu karet berwarna putih?”
“Tidak, dia suka memakai sepatu kulit. Ayahnya terus membelikannya sepasang demi sepasang.”
“Kau beruntung. Nampaknya suamimu orang baik.”
“Dia cukup baik padaku, tapi tak tahu apakah aku beruntung atau tidak.”
“Dan apa pekerjaanmu juga cukup baik?”
“Ya, bila dibandingkan orang seusiaku, pekerjaanku semuanya berjalan baik. Aku tinggal duduk di kantor, menjawab telepon, dan membawa berkas-berkas kepada atasan.”
“Kau sekretaris?”
“Aku menjaga arsip.”
“Pekerjaan macam itu sangat rahasia. Artinya, mereka mempercayaimu.”
“Itu agaknya lebih baik dari buruh. Kau juga dapat melalui masa-masa sulit? Karena kau kuliah, kukira kau punya pekerjaan profesional sekarang?”
“Ya, tapi itu semua berkat usahaku.”
Warna-warni matahari terbenam itu lenyap. Langit kini merah padam, namun di cakrawala, di atas pucuk-pucuk pohon, ada pijar kuning jeruk di ujung awan hitam. Di lereng, belukar itu menjadi gelap dan perempuan muda di bangku itu duduk. Kepalanya menunduk. Dia nampak melihat jam tangan lalu berdiri. Dia memegang tas tangan namun menurunkannya lagi ke bangku saat dia melihat jalan setapak yang ada sisi agak jauh dari pohon-pohon cemara. Rupanya sambil melihat bulan dekat awan-awan, dia beranjak dan mulai berjalan bolak-balik, matanya menatap tanah.
“Dia sedang menunggu seseorang.”
“Menunggu seseorang itu mengerikan. Sekarang para pemuda yang tidak datang untuk berkencan.”
“Apakah itu karena terlalu banyak perempuan muda di kota ini?”
“Para pemuda tidak kurang, namun terlalu sedikit pemuda baik.”
“Namun gadis ini sangat cantik parasnya.”
“Bila perempuan jatuh cinta duluan, pasti ia selalu sial.”
“Apakah pemudanya akan muncul?”
“Siapa tahu? Menunggu sungguh menyebabkan orang jadi gila.”
“Untungnya kita sudah melalui masa itu. Pernahkah kau menunggu seseorang?”
“Suamiku yang duluan mencari-cariku. Pernahkah kau menyebabkan seseorang menunggu?”
“Aku tak pernah lalai mengencani.”
“Kau punya pacar?”
“Begitulah.”
“Lalu mengapa kau tidak menikah?”
“Mungkin nanti.”
“Nampaknya kau tak terlalu mencintainya.”
“Aku merasa kasihan padanya.”
“Merasa kasihan bukanlah cinta. Bila kau tidak mencintainya, jangan terus membohonginya!”
“Aku hanya membohongi diriku.”
“Itu juga membohongi orang lain.”
“Ayo kita bicara yang lain.”
“Baiklah.”
Perempuan muda itu duduk. Lalu dia tiba-tiba berdiri lagi, melihat ke arah jalan setapak. Pulasan akhir warna merah yang redup di cakrawala hampir tak terlihat. Dia duduk lagi, tapi seolah merasa ada orang yang mengawasinya, dia menundukkan kepalanya dan nampak menggesek-gesek rok di lututnya.
“Apakah pemuda itu akan muncul?”
“Tak tahu.”
“Ini seharusnya tak terjadi.”
“Terlalu banyak hal yang tidak semestinya terjadi.”
“Apa pacarmu cantik?”
“Dia menyedihkan.”
“Jangan bicara seperti itu! Bila kau tak mencintainya, jangan bohongi dia. Cobalah temukan perempuan muda yang benar-benar kau cintai, gadis yang cantik.”
“Gadis cantik tak akan menyukaiku.”
“Mengapa?”
“Karena aku tak punya ayah yang baik.”
“Jangan bicara seperti itu, aku tak mau mendengarnya.”
“Jadi jangan dengar. Kukira kita harus pergi.”
“Maukah kau berkunjung ke rumahku?”
“Aku seharusnya membawa hadiah untuk putrimu. Itu juga akan berarti ucapan selamat padamu.”
“Jangan bicara seperti itu.”
“Apanya yang salah?”
“Kau selalu menyakitiku.”
“Aku tidak pernah berniat begitu.”
“Semoga kau bahagia.”
“Aku tak mau mendengar kata-kata itu.”
“Lalu, kau tak bahagia?”
“Aku tak mau membahasnya. Sangat sulit untuk bertemu seperti ini setelah bertahun-tahun lalu, jadi tidak usah kita membahas hal-hal menyedihkan seperti itu.”
“Baik, baik, mari kita mengobrol yang lain.”
Perempuan muda itu tiba-tiba berdiri. Seseorang berjalan di jalan setapak, nampak bergegas.
“Akhirnya dia muncul.”
Itulah pemuda yang membawa tas kanvas. Dia tidak melambatkan langkahnya dan terus saja berjalan. Perempuan muda itu melengos.
“Itu bukan pemuda yang dia tunggu. Hidup memang seperti itu. Agak aneh.”
“Dia menangis.”
“Siapa?”
Perempuan muda itu duduk, tangan di muka, tangannya diangkat dan nampak menutupi wajahnya, tapi tidak terlihat jelas. Burungburung berkicau.
“Masih ada burung-burung di sini ya.”
“Tidak hanya hutan yang mempunyai burung-burung.”
“Nah, masih ada burung-burung gereja di sini.”
“Kau sungguh jadi angkuh.”
“Itulah caraku bertahan hidup. Bila tidak menunjukkan sedikitpun keangkuhan itu, aku mungkin tak ada di sini sekarang.”
“Jangan mencibir begitu. Kau bukanlah satu-satunya orang yang menderita. Semua orang di negeri ini disuruh bekerja. Kau seharusnya menyadari bahwa sangat buruk keadaannya untuk perempuan muda yang disuruh bekerja di negeri yang tak punya sanak keluarga atau kawan. Aku menikah dengan suamiku karena aku tak punya pilihan yang lebih baik. Orang tuanya mengatur agar aku dikembalikan ke kota.”
“Aku tak menyalahkanmu.”
“Tidak ada orang yang berhak menyalahkan orang lain.”
Lampu-lampu jalan menyala dan menimbulkan cahaya kuning pucat di antara dedaunan hijau pohon. Langit malam kelabu dan kabur, bahkan bintang-bintang tak terlihat jelas di langit kota, menyebabkan cahaya dari lampu jalan yang ada di antara pepohonan terlalu terang.
“Kukira kita harus pergi.”
“Ya, kita seharusnya tak datang ke sini.”
“Orang mungkin mengira kita sepasang kekasih. Jika suamimu memergoki, dia tidak akan salah paham kan?”
“Dia bukan orang seperti itu.”
“Jadi, dia orang baik.”
“Kau dapat berkunjung dan tinggal di rumah kami.”
“Hanya bila ia mengundangku.”
“Tidakkah sama bila aku yang mengundangmu?”
“Sialnya aku tak tahu alamatmu. Itulah alasanku mengunjungi tempat kerjamu. Kalau tidak, aku akan langsung mengunjungi rumahmu.”
“Kau tak perlu memaksakan dirimu ke dalam semua omong kosong itu.”
“Tidak ada perlunya bagi kita untuk menyerang satu sama lain seperti itu.”
“Kau orang yang mengatakan satu hal namun bermaksud lain.”
“Ayo kita bicara yang lain saja.”
“Baiklah.”
Belukar itu menjadi gelap dan perempuan muda itu tak terlihat lagi. Namun, dengan sinar lampu, kilauan hijau dedaunan poplar putih nampak berpijar. Ada hembusan angin sepoi-sepoi, dan getaran dedaunan poplar putih berkilauan seperti kain satin.
“Apa dia telah pergi?”
“Tidak, dia sedang bersandar ke pohon.”
Sebuah pohon besar berdiri beberapa langkah dari bangku batu kosong, dan seseorang sedang bersandar di situ.
“Sedang apa dia?”
“Menangis.”
“Tak ada gunanya begitu!”
“Mengapa tidak?”
“Tak ada gunanya menangisi pacarnya. Dia seharusnya tak punya masalah dalam upayanya menemukan lelaki baik yang mencintainya, orang yang layak untuk cintanya. Seharusnya dia segera pergi.”
“Tapi dia masih berharap.”
“Jalan hidup itu lebar dan dia akan menemukan jalannya sendiri.”
“Apakah kau tahu segalanya? Kau tak mengerti bagaimana perasaan perempuan. Begitu mudah bagi lelaki melukai seorang perempuan. Perempuan selalu lebih lemah.”
“Jika dia tahu dirinya lebih lemah, mengapa dia tidak mencoba belajar menjadi lebih kuat?”
“Kata-kata manis.”
“Tak usah mencari-cari yang menyusahkan. Cukup banyak kekhawatiran dalam hidup ini. Orang harus mampu menerimanya.”
“Begitu banyak hal yang seharusnya begitu.”
“Kukatakan bahwa orang harus hanya melakukan yang seharusnya mereka lakukan.”
“Itu sama saja omong kosong.”
“Betul. Aku tak seharusnya menemuimu.”
“Itu juga omong kosong.”
“Baiklah, kita mesti pergi. Akan kubelikan kau makan malam.”
“Aku tak mau makan. Tidakkah kita bisa berbicara hal lainnya?”
“Tentang apa?”
“Bicaralah tentang dirimu.”
“Mari kita mengobrol tentang generasi selanjutnya. Apa nama putrimu?”
“Aku ingin punya anak laki-laki.”
“Punya anak perempuan juga sama.”
“Tidak. Ketika anak laki-laki tumbuh dia tak akan terlalu menderita.”
“Orang di masa depan tak akan menderita banyak, karena kita sudah menderita untuk mereka.”
“Dia menangis.”
Suara dedaunan berdesir dihembus angin sepoi-sepoi dari atas, tapi suara tangis jelas terdengar, dan berasal dari arah bangku batu dan pohon itu.
“Kita harus mendekatinya dan menghiburnya.”
“Aku tak sanggup.”
“Tapi kita mesti mecoba.”
“Kau saja yang pergi.”
“Dalam keadaan seperti itu yang tepat bagi seorang perempuan hanyalah pergi.”
“Dia tak memerlukan pelipur semacam itu.”
“Aku tak mengerti.”
“Kau tak mengerti apa pun.”
“Lebih baik tidak. Sekali kau mengerti, itu menjadi beban.”
“Nah, mengapa kau ingin menghibur orang lain? Mengapa tak kau hibur saja dirimu?”
“Apa maksudmu?”
“Kau tak mengerti perasaan orang lain. Jika perasaan itu sebuah beban, tidak mengerti tentu yang paling baik bagimu.”
“Ayo pergi.”
“Maukah kau berkunjung ke rumahku?”
“Tidak ada gunanya.”
“Apakah kita akan berpamitan seperti itu? Aku telah mengundangmu untuk makan malam besok. Suamiku juga bakal ada.”
“Kupikir lebih baik aku tak datang. Bagaimana menurutmu?”
“Itu sepenuhnya terserah kau.”
Di dalam gelap, suara tangis kian jelas terdengar. Sebentar-sebentar, isak tertahan bercampur dengan suara getar dedaunan dihembus sepoi-sepoi angin malam.
“Ketika menikah aku akan menulis sepucuk surat untukmu.”
“Lebih baik kau jangan menulis apa pun.”
“Bila nanti lewat untuk pergi bekerja, mungkin aku mengunjungimu lagi.”
“Lebih baik jangan.”
“Ya, itu sebuah kesalahan.”
“Kesalahan apa yang kau bicarakan?”
“Aku tak semestinya datang menjumpaimu lagi.”
“Tidak, bila kau datang itu tidak keliru!”
“Kita berdua tidak usah dipersalahkan. Kesalahan masa itulah yang harus dipersalahkan. Tapi semua itu masa lalu dan kita harus belajar melupakannya.”
“Namun sukar melupakan semuanya.”
“Mungkin dengan berlalunya waktu….”
“Kau harus pergi.”
“Maukah kuantarkan ke bis?”
Mereka berdua berdiri. Dari belakang batang pohon kelabu dekat bangku batu yang kosong dan hampir tidak terlihat, ada isak tak tertahankan. Namun, orangnya tidak terlihat.
“Menurutmu mungkin kita lebih baik mendesaknya pulang?”
Dedaunan yang menyutra, lembut dan muda di pohon poplar putih itu berkilauan tertimpa cahaya lampu jalan.

cerpen.....Urat Nadi



SEJAK kamu pergi, aku menunaikan janji itu: menyayat urat nadi pergelangan tanganku menggunakan pisau yang biasa kamu pakai mengupas apel untuk kita makan bersama. Kurasakan dingin gagang pisau itu pada genggaman tanganku sedingin matanya yang berkilat mengincar urat nadiku.
Cahaya senja yang oranye membias dari balik gorden. Masih sempat kutatap kesibukan di bawah sana. Mungkin kamu salah seorang yang berada di sana. Tapi, sebaik apa pun aku mengenal tubuhmu, tak mungkin dapat menengaraimu di tengah keramaian itu, dari jarak yang begitu jauh. Memang bukan jarak itu benar yang memisahkan. Sebab sejauh apa pun jarak, jika hatimu masih utuh untukku, semua bukan halangan untuk kurengkuh. Warna biru gorden terlihat makin pekat.
Maka, bagiku inilah jalan paling ampuh untuk membebaskanku dari rasa hampa kehilanganmu. Orang-orang akan mengetahui kematianku berhari-hari kemudian, setelah mencium bau busuk yang menguar dari jasadku. Mungkin kabar kematianku tidak akan sampai padamu. Tapi seandainya sampai, aku tahu kamu tak akan berbuat apa-apa selain tertegun sebentar untuk kemudian menangis sejenak sebagai bentuk permintaan maaf pada dirimu sendiri. Atau bisa jadi kamu tidak peduli sama sekali. Sama seperti mereka yang sibuk mengurusi pekerjaan masing-masing.
Kamu tak akan mencari jasadku, apalagi meraung untuk meminta maafku. Kalaupun kamu melakukannya semua sudah terlambat, dan tak memberi secuil pun manfaat, baik untuk memupus rasa sesalmu maupun jalan lapang bagi perpindahan rohku. Kematianku memang bukan untuk tujuan itu. Melainkan semata sebagai pembuktian kesungguhan cintaku. Aku tahu, apa pun alasanku, seperti orang-orang, kamu pun pasti akan menganggap jalan yang kutempuh adalah sebuah kecengengan dan ketololan yang tidak dapat dimaafkan. Tapi siapa yang butuh permaafan untuk kasus ini?
Jika kelak kamu atau siapa pun menuliskan cerita tentang kematianku, mungkin akan dianggap sebagai cerita tak bermutu. Lantaran kalian tak menemukan motif kuat dan masuk nalar yang melatari peristiwa tersebut kecuali patah hati. Oh patah hati, ini alasan yang dianggap terlalu sentimentil untuk mendorong orang melenyapkan diri. Begitulah, fakta boleh tak masuk akal. Tetapi cerita fiksi harus berdiri pada logika yang kuat.
***
Mungkin sempat terlintas di benakmu pertanyaan bagaimana aku menahan kesakitan saat mata pisau itu merobek kulit dan memutus urat nadiku. Saat darah memancar deras seperti bendungan jebol. Rasanya memang sangat pedih. Tapi tetap tak seperih dikhianati orang yang paling dicintai. Sudahlah, aku jauh lebih bahagia sekarang. Di mana pun kamu berada saat ini bukan lagi persoalan bagiku. Percayalah, tidak ada cara mengenangmu sebaik sekarang. Kalau boleh berharap, tentulah aku hanya berharap ada orang yang mengajarimu menulis puisi secara lebih baik dan sabar, membacakan dengan suara lebih lembut novel Norwegian Wood Haruki Murakami yang murung itu.
Perlahan-lahan kesadaranku menguap seiring dengan darah yang terus mengalir menggenangi tubuhku yang menggelepar dan perlahan-lahan mengerut di bak mandi. Kata orang-orang detik-detik kematian itu amat menyakitkan. Tapi bagaimana aku merasakan kesakitan jika kesadaranku meredup bersamaan dengan cahaya meremang, hitam. Tak ada lagi bayang wajahmu yang menghantuiku. Segalanya memudar dalam kekosongan yang tak memberi rangsangan apa pun. Aku percaya kegelapan hanya sebentar menghalangi mataku. Sesudahnya aku akan memasuki ruangan terang benderang. Pada saat itu aku bahkan bisa melayang-layang. Lantas mengejarmu, kalau mau tentu, menemukanmu sibuk meracik jus jambu di dapur warna abu-abu.
Sebelum aku benar-benar menjadi bagian dari ketiadaan, baiklah akan kuungkapkan betapa aku telah lama mengendus pengkhianatan itu. Cahaya senja bulan Februari yang redup itu berpendar menyiram ikal rambutmu saat kamu beranjak pergi dari kamar apartemen kita untuk menemui lelaki itu. Tanpa kamu sadari aku membuntutimu. Ini bukan pekerjaan gampang mengingat kamu seperti dianugerahi insting untuk selalu mencurigai gelagat apa pun di sekelilingmu. Tapi aku sudah sekian lama mengenalmu, tahu bagaimana cara mengelabuimu. Dari balik kaca mata hitam aku mengawasimu memasuki kedai kopi itu. Duduk di sana, mengambil majalah dari balik jaket kulit buaya yang kubelikan dari Singapura. Kamu membaca majalah sambil menunggu segelas espresso dingin datang diantarkan pelayan. Ketika pesanan datang kamu membiarkannya sekian menit, mungkin ada artikel yang lebih menarik perhatianmu. Sesekali kamu menatap ke arah pintu. Seperti adegan yang kerap muncul dalam novel-novel pop, kamu tengah menanti seseorang muncul dari sana. Kamu menjumput telepon genggammu di kantung jaket, bercakap-cakap sebentar, mendengus kesal. Memanggil pelayan.
Kamu mematikan rokok putih yang baru beberapa detik kamu bakar ujungnya, menutup majalah, lantas mengangkat gelas espresso mendekat ke mulutmu. Lidahmu menghapus buih espresso di bibirmu secermat kakimu mengayunkan langkah meninggalkan kedai. Menyusuri lorong yang dipenuhi warung kaki lima yang menggelar aneka dagangan yang tak pernah menarik minatmu untuk sekadar melihat-lihat atau menanyakan harganya. Kamu anak kampung yang mendadak keranjingan barang-barang bermerek dan menganggap sampah barang-barang kaki lima. Perilaku yang sejatinya amat kubenci. Tapi bibir mungilmu membuatku tak pernah mampu mengungkapkannya.
Di mulut gang kamu berhenti, menyetop taksi yang lewat. Kendaraan itu bergerak seperti terengah dikepung kemacetan. Aku mengawasimu dari balik punggung tukang ojek yang kusewa mengikuti perjalananmu. Dia menurunkanku di sebuah tikungan jalan. Beberapa blok dari sana taksi berhenti, kamu keluar dari sana dan bergegas masuk ke sebuah gedung yang kukira apartemen, menemui lelaki itu.
***
Kamu hanya membisu menghadapi letupan kemarahanku. Memohon maaf sambil tersedu. Kejujuranmu mengakui pengkhianatan itu patut kuhargai, tapi aku tak mampu menahan hatiku yang pecah seperti agar-agar yang jatuh ke tanah. Kamu tahu, aku tak kuasa menyakitimu lantaran cinta yang begitu besar padamu.
“Maafkan aku, Jim.” Sekali lagi, tak ada yang dapat kulakukan selain menerima permintaan maafmu. Aku bahagia saat kau berjanji meninggalkan lelaki itu. Menghiburku bahwa semua kekhilafan belaka. Tapi seperti telah kuduga, itu tak berlangsung lama. Gelagat pengkhianatanmu mulai kuendus lagi. Aku kerap menangis diam-diam pada malam-malam yang berongga. Kamu selalu berkilah tentang tugas yang menumpuk di tempat kerja setiap pulang terlambat.
Sampai suatu malam kamu melontarkan kalimat menakutkan itu. “Jim, sebaiknya kita berpisah. Kita sudahi sampai di sini kisah ini.” Nada suaramu terdengar patah-patah namun artikulasinya jelas. Seketika ketakutan menghadapi hari-hari tanpa dirimu makin nyata menghantuiku. Aku ingin meraung. Tapi kamu hanya melihatku tertunduk lesu, melihat air mataku berlinang tanpa suara.
***
Sebenarnya sejak awal pertemuan kita di stasiun kereta itu, aku tahu kata-kata menakutkan itu akan terlontar dari bibir mungilmu. Tapi aku telanjur terbius cara mata sayumu menatapku, gerak gerik, serta desah suara manjamu. Tak akan pupus dari ingatanku, ketika kamu mengatakan, “Anda baik sekali. Malaikat memang dikirimkan Tuhan secara tidak terduga-duga,” saat kali pertama kamu masuk ke apartemenku. Usiamu baru 19 waktu itu.
“Aku boleh tinggal di sini, Jim?” pertanyaanmu itu bahkan kucatat baik-baik di buku harianku. Juga tentang penggal masa kanak dan remajamu yang lenyap disesap getirnya perceraian kedua orang tuamu lantaran kemiskinan.
Lima tahun kamu tinggal di sana menerbangkan kesendirian dan ketakutanku. Kamu tak ubahnya doa-doa yang dikabulkan Tuhan. Kamu pasti tahu dari pancaran sorot mataku. Saban petang kamu dengan setia menungguku pulang, menyediakan kopi yang kerap tak kuhabiskan lantaran aku memang tidak begitu menyukai kopi dan lebih suka minuman ringan bersoda.
“Kamu tahu, Jim. Minuman bersoda membuat tulangmu rapuh,” katamu bak ahli gizi. Aku geli mendengarnya. “Kalau makan mie bagusnya dicampur sayuran, Jim.” Ah… kenyinyiran yang amat kusukai.
“Banyak sekali buku di sini. Buat apa buku sebanyak ini?” Katamu saat melakukam tugasmu membereskan buku atau majalah yang berserakan usai kubaca.
“Mereka teman baik untuk menghalau kesepianku dulu. Bacalah novel itu. Sangat menarik pasti kau suka.” Sayang, kamu tak pernah gandrung pada novel-novel itu, apalagi menulis puisi. Kamu hanya mau aku membacakannya dengan lembut, perlahan-lahan sampai kamu tertidur.
“Aku bosan di rumah terus, Jim. Aku ingin bekerja seperti kamu dan orang-orang. Kita bisa sewa pembantu untuk menyiapkan nasi goreng dan kopi di pagi dan petang hari.” Kamu merajuk. Seperti yang sudah-sudah, aku tak pernah kuasa menolak keinginanmu.
***
“Sudahlah, Jim. Tak perlu bersedih. Kamu pasti segera mendapat yang lebih baik dariku.”
Aku tak tahu pasti, apakah itu caramu menghiburku atau sebaliknya. Yang jelas aku merasa begitu pilu saat kau lontarkan kalimat itu dengan begitu enteng seperti saat kamu memesan nasi goreng. Ini memang agak sulit dimengerti