blank

hhh"/> hhh"/>
rakiz_blank. Diberdayakan oleh Blogger.

diantaramoe

My Slideshow: Diantaramoe’s trip to Bali, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Bali slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.

claver's

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com
Read more: http://epg-studio.blogspot.com/2010/03/mengganti-penampilan-kursor.html#ixzz1zkrh3e3n
RSS

Minggu, 16 September 2012

Pemburu Air Mata



dengan 47 komentar
 
 
 
 
 
 
49 suara


Buat penggemar matahari, malam selalu menakutkan. Karena hanya pada malam, semua khayalan tentang iblis dan hantu memiliki tempatnya. Malam entah kenapa selalu memecahkan rongga-rongga dada dan membuat denyut jantung lebih cepat.
Terkadang gemerisik angin terlembut pun entah kenapa tetap membuat helaan napas menjadi lebih berat. Malam adalah waktu di mana hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang menahbiskan dirinya pada kekuatan hati. Benar hanya orang yang berhati kuat yang akan berani menghadapi malam. Seperti para pemberani di desaku. Suatu tempat amat elok di kaki gunung Jaganmantri. Gunung yang kontur tanahnya menyerupai payudara ranum ibu yang baru melahirkan itu benar-benar sangat cantik. Ibu semesta begitu setiap kali ada orang yang bertanya tentang arti Jaganmantri.
Desaku sangat indah luar biasa. Setiap pagi saat matahari pertama kali menyetubuhi bumi, genting-genting rumah berkilauan bersahut-sahutan dan dari kilau itu bermunculan warna-warni seperti pelangi yang menyilaukan memantul ke angkasa. Seperti selendang para bidadari bertebaran di langit yang begitu tampak selalu tertawa. Seluruh negeri ini tahu bahwa pantulan kilau dari genting itu adalah air mata yang membeku sehingga bisa dibentuk apa saja. Benar semua benda di desaku terbuat dari kristal-kristal airmata yang membeku. Mulai dari jalan desa, rumah-rumah, bahkan beberapa baju yang dipakai penduduk tebuat dari pintalan warna-warni kristal airmata.
Tidak ada satu orang pun tahu siapa yang pertama kali membuat adonan airmata sehingga bisa dibentuk menjadi apa saja itu. Desaku menjadi desa terindah di seluruh negeri dan airmata adalah hal yang sangat biasa ditemukan di sini. Penduduk desaku hidup dari airmata. Apapun yang kami lakukan selalu diiringi airmata. Bahkan ketika di saat-saat bahagia sekalipun, saat bersenang-senang, airmata selalu harus hadir di sana. Kami tidak mengenal airmata kesedihan ataupun kebahagiaan. Kami hanya mengenal airmata adalah napas. Seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, airmata di desa ini pun adalah hidup mereka. Di sini diyakini orang yang semakin mengeluarkan airmata adalah orang yang benar-benar bahagia. Tak heran salah satu seniman nomor satu di desa ini mampu membuat satu komposisi dari lolongan tangis dan tawa sekaligus.
Konon komposisi ini pernah ditawar salah satu produsen besar dari ibukota, tapi seniman itu tak melepaskan karena si produser ternyata tidak bisa mengeluarkan airmata. Ke mana pun penduduk desa ini pergi mereka tampak selalu membawa tas berisi botol besar air mineral kosong dan spons. Karena ketika airmata merekan mengucur deras, segera disapunya dengan spons dan diperas hati-hati ke dalam botol air mineral tersebut. Sangat lazim telihat orang-orang membawa lebih dari satu botol. Airmata dari botol-botol tersebut terus dikumpulkan ke dalam sebuah koperasi unit desa untuk kemudian diolah menjadi potongan 2 baluk kristal airmata sebagai bahan dasar apa pun benda di desa itu. Potongan-potongan kristal itu terus diolah menjadi berbagai macam kebutuhan.
Begitulah desaku begitu damai dan nyaman penuh keberlimpahan dengan airmata. Airmata yang menjadi hidup dan juga bahagia. Orang-orang sederhana dengan airmata bercucuran ternyata membuat hati orang-orang di desaku menjadi orang-orang kuat luar biasa. Orang-orang yang pemberani. Bahkan malam dengan kepekatan akan duka sekalipun tak mampu membuat mereka menghindar dari gulita. Setiap menjelang senja, saat roh-roh tua mulai ingin mengembara, para lelaki di desaku segera keluar menghadap ke barat. Dengan penuh cinta dibungkukkan badan mereka dalam sikap berdoa. Mereka tidak menganggap matahari itu Tuhan, tetapi mereka percaya saat matahari mulai membakar kaki langit dengan ujung-ujung lidah apinya sehingga langit berubah kemerahan, saat itu pula seluruh alam raya ini menangis sejadi-jadinya. Nah, karena tangisan alam raya inilah maka mereka membungkuk menghormatinya karena mereka merasa bahkan alam raya turut merestui tangisan-tangisan yang mereka haturkan sebagai puja. Sungguh jika malaikat kesayangan Tuhan sekalipun pasti akan selalu merasa senang tinggal di desa itu. Desa yang penuh air mata, tetapi begitu bahagia luar biasa ini. Hingga suatu hari ada yang merubah segalanya.
Awalnya terjadi dari kedatangan salah satu warga yang sudah lama merantau. Entah karena sudah lama merantau hingga lupa bagaimana caranya mengeluarkan air mata atau memang dia tidak mau lagi mengeluarkan air matanya. Tentu saja pada awalnya para penduduk terheran-heran bagaimana bisa lelaki itu tidak lagi mengeluarkan air mata. Ketika ditanya mengapa dia tidak mengeluarkan air mata oleh kepala desa yang diyakini sangat sakti karena mampu mengeluarkan air mata seputih susu sungai-sungai sorga itu, jawabannya sungguh mengglegarkan “Airmata hanya untuk para perempuan. Lelaki tidak menangis. Karena hanya lelaki pengecut saja yang menangis.” Sungguh, kalimat itu seperti angin puting beliung yang merontokkan semua peradaban dalam satu helaan napas. Semua lelaki yang mendengarnya langsung tanpa sadar menghentikan air matanya. Sejak saat itu, terjadilah proses penghentian besar-besaran air mata oleh para lelaki di desa itu. Wajah-wajah lelaki di desa itu yang tadinya begitu ringan dan penuh dengan harapan, tiba-tiba menjadi tegang dan tampak sekali ada desakan-desakan air yang mati-matian ditahan di dalam sekat-sekat dadanya. Benar, lelaki tidak menangis. Begitu jargon baru yang terjadi didesa itu dan itu fatal.
Sejak saat itu pula para lelaki menempatkan dirinya lebih tinggi daripada para perempuan di desa itu. Lelaki-lelaki yang tadinya mau membantu para perempuannya memasak, menjahit dan mengurus anak tiba-tiba menjadikan diri mereka tuan. Air mata hanya milik kaum perempuan. Karena hal ini, maka sejak hari lelaki berhenti menangis, tidak ada lagi lelaki yang membawa botol mineral kemana-mana. Koperasi pengolah air mata mulai kesulitan pasokan karena hanya kaum perempuanlah yang menyetor air mata. Tentu saja pasokan itu tidak akan cukup mensuplai kebutuhan. Terlebih kompisisi mineral air mata lelaki dan perempuan berbeda. Balok-balok kristal air mata menjadi menurun kualitasnya. Orang akhirnya mencampurnya dengan air untuk memproduksi apa saja. Tentu saja ini sama sekali menghancurkan. Setiap pagi pelangi-pelangi yang berkilau karena terpaan matahari di atap-atap kristal air mata rumah-rumah penduduk mulai berkurang kadar warnanya. Meredup pelan-pelan seperti detak jarum yang berputar terbalik, makin lama warna itu makin samar dan begitu tipisnya.
Desa itu benar-benar menjadi desa yang sedih sesedih-sedihnya. Air mata menjadi barang langka, tetapi kesedihan menjadi begitu berakar. Hingga satu hari koperasi pengelola balok kristal air mata itu menyatakan bangkrut. Mereka tak sanggup lagi berproduksi karena suplai air mata hampir tidak ada lagi. Air mata yang tersedia begitu buruk kualitasnya karena hanya air mata perempuan sehingga tidak mampu lagi membuat kristal yang solid tanpa air mata lelaki. Ketika menyadari bahwa balok kristal air mata tidak ada lagi, mulailah mereka panik. Kepala desa membunyikan kentongan tanda para lelaki harus berkumpul, “Ini sebuah kesalahan, lelaki boleh menangis karena kita butuh air mata untuk kelangsungan hidup kita, mari kita menangis lagi.” Dia pun mulai mengejap-kejapkan matanya untuk memanggil roh air mata agar kembali hadir, tanpa sadar semua lelaki yang hadir mengikutinya. Tetapi roh air mata mereka memang sudah tidak ada lagi. Mereka pun mulai panik. Semakin keras mereka berusaha, semakin air mata tidak lagi keluar. Bahkan karena terlalu keras hanya darah yang keluar dari mata mereka. Tentu saja itu bukan air mata karena berwarna merah. Air mata seperti suara Tuhan, begitu bening dan sejuk.
“Roh air mata itu harus kita cari, kalau perlu ke ujung dunia pun harus kita buru,” begitu akhirnya keputusan kepala desa itu dalam keputuasaannya. Begitulah, sejak hari itu banyak lelaki keluar dari desaku. Mereka memburu air mata ke seluruh pelosok negeri. Ada yang berhasil ada pula yang tidak. Ada yang pulang dengan membawa bergalon-galon air mata, ada yang mengirimkan lewat kilat khusus, tetapi ada juga yang pulang hampa sia-sia. Lelaki perantau pencetus gagasan penghapusan air mata bagi lelaki itu menghilang entah kemana. Konon, ada yang pernah melihat dia secara diam-diam menghilang ke atas gunung dalam penyesalannya karena telah membuat desanya menjadi berantakan. Tetapi ada juga rumor yang menyebutkan bahwa saat dia menyebarkan propaganda anti air mata itu sebenarnya dia telah disuruh oleh setan yang tidak pernah ingin melihat manusia bahagia. Entah benar atau tidak, yang jelas sekarang ini sangat jarang ditemui lelaki di desaku. Kebanyakan mereka telah menjadi pemburu air mata. Mereka akan sangat mudah ditemui di kota-kota besar maupun kecil. Dengan berbagai cara mereka akan membuat orang-orang menangis, yang paling sering dilakukan adalah menjadi pendongeng cerita-cerita sedih dimana ketika para penonton beramai-ramai menangis maka si pendongeng akan buru-buru mengambilnya dengan sponsnya dan dimasukkan kedalam botol air mineralnya.
Demikianlah, desaku yang tadinya begitu damai dan indah kini menjadi sunyi. Kesunyian yang begitu menyayat. Kesunyian yang melahirkan pekat. Seloka-seloka yang disenandungkan perempuan yang tinggal hanyalah senandung kesepian yang dibungkus rapat dengan kerinduan, karena para lelaki mereka menjadi pemburu air mata dan tidak tahu kapan mereka pulang. Benar-benar desa yang tidak bahagia. Mereka sering sekali merindukan waktu lalu, dimana air mata begitu mudah didapat, sangat bening seperti hati. Mereka begitu mendendam kepada lelaki pencetus ide penghapusan air mata. Dendam yang melahirkan bara di dada. Bara yang melahirkan air mata api.
Air mata menjadi makin langka. Air mata pada akhirnya melahirkan hanya lolongan. Air mata pada akhirnya menjadi absurd maknanya dan para pemburu air mata tak pernah lelah memburunya karena mereka benar-benar tahu bahwa hidup mereka akan kembali penuh dengan air mata. Ya, karena dari air mata akan melahirkan tawa.

Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya


dengan 68 komentar
 
 
 
 
 
 
33 suara


Inilah saatnya aku menyesal telah menikahi perempuan yang tergila-gila pada idenya. Tidak cukupkah ia menjadi perempuan biasa saja, seperti aku suaminya yang merasa cukup hidup sebagai orang biasa. Seharusnya aku tahu perempuan ini akan memilih cara kematian yang indah untuk dirinya sendiri.
Adrenalinku berpacu cepat. Jantungku berdetak dengan irama tak beraturan. Istriku berbaring dengan tubuh kisutnya di ranjang dan aku telah menua sepuluh tahun dalam waktu sebulan. Uban bermunculan di rambutku seperti jamur di musim hujan. Mereka tumbuh dengan kecepatan yang tidak dapat kuramalkan lagi. Mungkin warna putih itu segera akan menjajah kepalaku. Aku sungguh tidak peduli.
Saat ini, aku sudah terlampau marah. Panasnya mendidihkan semua cairan di tubuhku. Aku sangat marah. Aku marah kepada perawat yang begitu bego menerjemahkan perintah dokter, marah pada dokter yang begitu bego mengartikan gejala-gejala penyakit pada tubuh istriku, marah pada rumah sakit yang begitu lambat mengerjakan perintah-perintah dokter, aku marah pada istriku sendiri mengapa tidak merasakan dengan benar gejala di tubuhnya samapai semuanya terlalu terlambat. Aku ingin marah pada teman-teman istriku, teman-temanku sendiri dan sanak saudara yang terasa menambah perih hatiku dengan obrolan mereka, dan pada saatnya mereka akan melemparkan aku sendiri pada kesedihan yang tanpa ujung.
Kepada siapa lagi aku harus marah? Mungkin aku terlalu marah pada diriku sendiri yang tidak pernah dengan benar memperhatikan istriku sendiri. Membiarkannya bekerja tak mengenal waktu dan membiarkannya menilai sendiri kesehatannya tanpa pernah berusaha menyelidiki sendiri. Bukankah aku sangat tahu bahwa istriku adalah pembohong terbesar dalam kesehatannya. Dalam hidupnya hanya ada kerja, kerja dan kerja, kesehatan adalah masalah paling buntut yang dipikirkannya. Mungkin lagi-lagi aku harus marah pada diriku sendiri kenapa menikahi perempuan yang demikian. Oh… Aku kehilangan kata-kata. Tiba-tiba aku merasa begitu lelah.
Pernahkah kau menunggui orang yang kau cintai mengerang menahan sakit dan kau merasa kau akan gila bila terus berada di sana. Bagimu udara terasa pengap dan nafasmu sesak. Hatimu hancur detik demi detik melihat keadaanya semakin memburuk. Setiap detik kehancuran menumbuhkan uban di rambut dan satu kerut mendalam di wajahmu.
Kadangkala aku ingin pergi meninggalkan istriku begitu saja. Pergi sejauh-jauhnya dan melupakan tubuh istriku yang kelihatan semakin buruk. Apa yang bisa diharapkan dari tubuh kurus tinggal belulang dan jiwa yang tidak lagi sadar pada dunia sekitarnya? Ingin rasanya kunikmati duniaku sendiri yang lebih cerah dan berwarna-warni. Namun gerakan kecil tubuhnya dan lirih erangannya selalu memanggil-manggilku untuk kembali. Tubuh ringkih itu masih menyimpan ketenangan dan kedamaian yang membuatku selalu ingin memeluknya. Kata orang, begitu kau berani mencitai, kau akan dibuat menderita olehnya. Cinta akan membuatmu merasakan luka terperih di hatimu dan ketakutan yang mengazab jiwamu. Cintaku padanya membuat aku harus siap untuk hancur berkeping-keping menjadi debu menunggu saat-saat terakhirnya.
Walaupun harus kuakui, belakangan ini kekuatan hatiku seolah-olah menuju babak akhir. Aku selalu gemetar ketakutan ketika langkah-langkah dokter mendekat ke ruangan. Kata-kata mereka selalu membuat aku jeruh dan nyaliku menciut. Seandainya aku dapat menyihir mereka menghilang dari pandanganku, agar mereka tidak pernah datang kembali. Oh, bukannya aku sangat mengharapkan mereka menyembuhkan istriku?
Tahukah engkau, betapa aku membenci bangunan yang bernama rumah sakit ini. Bau kain cat, bau infus, bau lantai dan bau udara di rumah sakit ini membuat nafasku terasa melukai paru-paruku. Jika keluar dari tempat ini, aku akan merawat diriku dan berjanji untuk tidak akan pernah lagi kembali ke sini.
Andai saja aku masih bisa berharap akan ke lari dari rumah sakit ini bersama istriku yang sehat dan segar bugar, dengan pipi tembamnya dan wajah berkilau. Aku memang harus memupuk harapan itu agar aku sanggup bertahan disini. Karena tempat ini telah membuat jiwaku mati. tak sanggup lagi mengindra rasa. Pertama kalinya dalam hidupku aku sungguh-sungguh ingin meledak. Meledak membuat jasadku bisa melenting ke tempat sejauh-jauhnya, sehingga semua rasa berhamburan dan musnah.
Oh tidak khayalanku sudah mulai kacau balau. Sungguhkah aku masih waras? Sesungguhnya aku ingin mengistirahatkan jiwaku barang sejenak dan melupakan segala hal tentang istriku sesaat. Rasanya aku ingin mengintip bayanganmu di cermin. Sudah seperti apa rupaku saat ini? Aku selalu menyisir rambutku dalam hitungan detik, tanpa pernah memperhatikan apa rambutku sudah rapi atau tidak. Seperti apa rupaku sekarang ini? Mungkin aku sudah tampak sebagai tikus dekil yang baru keluar dari got yang kotor. Setidaknya aku pasti sangat mirip dengan burung yang basah kuyup sehabis hujan deras yang mengguyur bumi. Aku gemetar kedinginan dan sayap-sayapku tidak sangguh lagi mengepakkan sayap ke tempat yang teduh. Ah tidak, ini bukan saatnya melihat wajahku sendiri.
Aku mengarahkan pandanganku kepada tubuh istriku yang sedang tertidur. Mukanya sepucat kain kafan. Batok kepalanya meyisakan sejumput rambut yang sangat jarang. Tubuhnya begitu tipis seolah tak seorang pun terbaring di sana. Apakah yang masih tersisa di tubuhnya? Aku tertidur lelah di sisi pembaringannya.
***
Kabar terakhir yang kudengar dari dokter adalah kabar mengenai istriku yang menuju babak akhir. Penyakit kanker paru-paru yang menggrogoti tubuhnya sudah sampai pada stadium akhir. Tak ada jenis pengobatan yang sanggup untuk memperpanjang umurnya lebih lama lagi. Oh istriku yang penuh dengan energi. Yang membangkitkan seluruh hidupnya untuk menulis dan membela kau tertindas. Apakah segala nyala yang pernah memancar dari tubuhnya akan padam begitu saja? Apakah kata-kata tanya yang bersemangat akan lenyap begitu saja?
Aku masih tidak dapat percaya pada tubuhnya yang lincah seperti kijang tersimpan penyakit yang begitu ganas. Seharusnya aku tahu sejak awal, perempuan yang kunikahi ini adalah perempuan yang akan memilih akhir yang tragis buat dirinya sendiri. Bukankah begitu yang selalu kudengar terntang orang-orang besar? Mereka akan memilih cara mati yang akan membuat mereka diingat dengan perasaan haru. Akan tetapi tidak dengan aku, laki-laki yang menjadi suaminya. Aku akan tetap mengenang kepergianmu kekasih dalam rasa sakit yang jauh merajam hatiku. Karena jauh di dalam hatiku aku masih ingin meneruskan hidup denganmu hingga di ujung waktu.
Andai aku memilih perempuan yang lebih lunak menjadi istriku, mungkin kejadiannya akan berbeda. Barangkali ia akan lebih peka pada penyakit yang menyeruak di tubuhnya. Barangkali ia akan segera memeriksakan diri ke dokter ketika ia merasa ada yang ganjil dengan dirinya. Dan segalanya diketahui lebih awal, obat masih sanggup menyembuhkan penyakirnya dan kami masih bisa merajut kebahagiaan bersama. Kami akan menggapai cita-cita kami bersama. Istriku akan tersenyum cermelang pada keberhasilannya mewujudkan cita-citanya. Aku akan tersenyum bangga untuknya. Mungkin setelah itu kamu akan memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama-sama, menyesap setiap bulis kebahagiaan yang mentes dalam kehidupan kami. Karena kadang-kadang waktu melesat seperti kilat dan meninggalkanmu jauh ke belakang.
Kami akan menghabiskan waktu dengan minum kopi tengah malam dan mengobrol sampai subuh. Kami saling memeluk dan memberi ciuman mesra. Lalu kami akan berpelukan lama sekalli seolah tak ada yang dapat memisahkan kami. Gelagak-gelagak tangis tiba-tiba tak sanggup untuk kutahankan lagi. Aku menangis dengan suara yang terasa terpantul pantul ke seluruh ruang. Aku tidak tahu apakah aku sudah mempermalukan diriku sendiri. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak sanggup lagi menunggu saatnya tiba. Karena setiap kali aku mengingat saat itu akan tiba, nyaliku menjadi kerdil, aku gemetar ketakutan membayangkan lorong kesedihan yang menungguku di sana. Aku merasakan rasa sakit yang tak terperikan dari sebuah bolong hitam besar hatiku. Masih sanggupkah aku menunggu saat itu tiba?
Rasanya aku tidak akan pernah sanggup. Terutama karena aku merasa istriku belum pantas untuk mati. Terlalu banyak hal hebat yang bisa dikerjakannya seandainya ia tidak mati. Aku bahkan masih bisa merasakan gelora semangatnya yang membara sekalipun ia terbaring tanpa daya. Mengapa ia harus padam di saat ia begitu ingin berpendar seperti kembang api. Apa ini yang sungguh bernama takdir?
Istriku memang mempunyai musuh. Ialah orang-orang yang terus menerus mendapat kritik pedas darinya. Kalaupun ada yang bersorak bahagia sekarang mungkin merekalah orangnya. Mereka dengan penuh dendam bisa saja mengatakan istriku terkena karma. Oh aneh, bukankan merekalah yang harus menerima karma karena istriku orang baik. Seharusnya istrikulah yang bersorak karena satu persatu orang yang dikritiknya akan menuai balasan.
Tangisku berubah menjadi sedu sedan yang masih terdengar keras. Istriku terlelap dalam tidurnya akibat obat-obatan yang mengguyur saraf-sarafnya. Ia tidak akan mendengar suara tangisku, karena bila ia melihatku seperti ini ia akan tertawa terbahak-bahak. Pada saat menahan rasa sakit yang sanggup mengoyak jantungku pun, tak setetes pun air mata meleleh ke pipinya. Istriku adalah perempuan yang tangguh, namun tidak aku suaminya. Entahlah, tangis ini membuat segalanya terasa lebih mudah bagiku. Ada kepedihan yang hanyut bersama dengan tetes-tetes air yang mengguyur daguku.
Sungguhkah ini cara kematian yang diinginkan oleh perempuan yang begitu tergila-gila pada idenya? Barangkali ia ingin mati sebagai martir dari ide-ide yang belum sempat disampaikannya. Barangkali kematiannya pun ia harapkan menjadi sumbu yang mengobarkan api perjuangannya. Tetesan air mataku mengering tepat ketika aku siap melepasnya pergi atau merangkulnya kembali kedalam kehidupan. Aku tahu perempuan ini adalah perempuan yang begitu bahagia mencumbui cita-citanya. Demi cintaku padanya aku rela ia memilih

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita


dengan 73 komentar
 
 
 
 
 
 
50 suara


Ketika kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda.
Lelaki itu kamu panggil Ayah John karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan farmasi. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Menyewakan sebuah rumah buatmu dengan seorang pembantu dan seorang sopir, tapi dia selalu menjemputmu dari rumah ke kantor dan mengantarmu dari kantor ke rumah. Sopir hanya bekerja kalau Ayah John sedang ada tugas keluar daerah, sehingga dengan waktu yang demikian panjang, sopir menyambi kerja sebagai tukang ojek.
Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogya, Lombok dan beberapa daerah lainnya di dalam negeri. Keluar, kalian hanya mengunjungi Singapura, Malaysia dan Thailand karena waktu yang sempit. Namun Ayah berjanji akan membawamu ke sebuah negara di Eropa nanti. “Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia,” kata Ayah John kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.
Kamu pun bahagia, setidaknya sampai saat itu. Ayah John memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Ayah John akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Ayah John.”
Di luar rumah dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah ia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Ayah John sempat menikahimu. Untuk menenangkanmu dia hanya berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor selesai. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat peluruh kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Ayah John berdalih mobilnya dipakai teman dan obat itu milik temannya. Kamu tidak percaya dan kalian bertengkar hebat. Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tapi dilakukan beberapa kali. DIa tak berhenti menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.
“Aku tidak tahu apakah itu pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan suami terhadap istrinya. Tapi aku tidak percaya Ayah John melakukan itu.”
Ketika memeriksakan diri ke dokter kandungan, kamu baru menyadari kandunganmu sudah hancur. Ternyata kamu sudah meminum banyak obat peluruh kandungan yang dilarutkan Ayah John dalam minuman kamu, jauh sebelum kamu menemukan sisa obat itu dalam mobilnya. Dokter mengatakan kamu harus dikuret dan dia bertanya apakah kamu sudah menikah.
Kamu mengangguk di tengah kegalauan yang melanda.
“Saya akan memberi rekomendasi untuk dikuret,” kata dokter itu.
Kamu pulang bukan saja dengan kandungan yang hancur, tetapi juga hati yang lebur. Pupus sudah impianmu untuk memiliki anak dari Ayah John. Isi rahimmu dikosongkan sekosong hatimu. Lalu Ayah John pun pergi darimu tanpa pernah mengatakan apa pun. Rumah kontrakan tidak dibayar lagi, pembantu pulang kampung dan supir sepenuhnya bekerja sebagai tukang ojek karena mobil ditarik Ayah John. Bahkan kemudian kamu pun dikeluarkan dari tempatmu berkerja dengan alasan yang tidak kamu pahami dan tanpa pesangon. Ayah John tidak pernah menjawab panggilan teleponmu. Pesan-pesanmu tak pernah ditanggapinya. Semua kemanisan hidup bersama Ayah John berubah menjadi pahit, lebih pahit dari obat yang diam-diam dilarutkan Ayah John dalam minumanmu.
Dalam keputusasaan itu, kamu kembali ingat masih memiliki keluarga. Kamu kembali kepada keluarga hanya untuk membuat hatimu semakin hancur. Bapak dan ibu menerimamu kembali tetapi tidak mau turut campur dalam persoalanmu karena sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Mereka bahkan tidak pernah mau mendengarkan penderitaanmu akibat perlakuan Ayah John karena menganggapmu sudah cukup dewasa menanggungnya sendiri.
Itu kata-kata yang pernah kamu ucapkan ketika kamu pergi dari rumah untuk hidup bersama Ayah John. “Ayah John bukan saja telah membunuh bayiku, tetapi juga membunuh jiwaku.”
Kamu mengucapkan itu dengan air mata yang mengalir di pipi sambil menatap air hujan mengalir di permukaan kaca. Aku memelukmu dari belakang dan mencium pipimu penuh perasaan. Air mata kita menyatu seperti tubuh kita. Ketika pernyatuan itu terjadi, bahkan diriku dan dirimu tak bisa membedakan mana air mataku dan mana air matamu. Keduanya mengalir di pipiku dan di pipimu menjadi air mata kita.
***
Ketika kamu bercerita tentang apa yang kamu lakukan terhadap lelaki itu, aku menangis sendiri di dalam kamar yang minim cahaya. Tidak ada hujan di luar sana, tidak ada kemacetan dan tidak ada kamu di sini. Hanya ada aku, hati yang patah dan air mata.
Dua tahun kalian menjalin hubungan, jauh lebih lama dibandingkan denganku yang baru dua bulan. Dua tahun bukanlah perjalanan cinta terlama yang pernah kamu lewati. Masa tujuh tahun penuh cinta, tapi dua tahun itulah yang paling berkesan sepanjang hidupmu.
Di kamar sama, kita memulai percakapan soal masa lalumu, masa laluku serta masa depan kita. Kamu tidak bisa datang malam ini karena “ingin mengujungi saudara yang sakit”. Aku menelpon sabelum kamu berangkat. Kita berecerita tentang aroma dan lagu, dua hal yang bisa membangkitkan memori ke masa lalu. Aroma dan lagu mengundang kenangan, kita bersepakat soal itu.
Aku pun menyemprotkan aroma lemon yang lembut ke seluruh tubuh agar bisa mengingatkanmu sampai di dalam tidur. Aku ingat aroma tubuhmu saat kita menangis bersama dan kuyakin itulah kenikmatan terbesar dalam hidupku. Kejadian itu lebih kuat terpatri bahkan bila dibandingkan dengan desahan kita di kamar mandi.
Setelah mengucapkan janji untuk tetap mencintaiku, suaramu lenyap dari telinga tetapi tetap melekat di hatiku. Aku tidak pernah menyangka itulah kata cinta terakhir yang kudengar darimu. Malam itu aku membawa kerinduanku ke keramaian, berharap lelah datang dan pulang dengan kantuk yang mengundangmu lebih cepat dalam impianku.
Sampai hari berganti dan kamu tak hadir dalam mimpiku, kabar darimu belum juga datang. Aku harus menghubungimu karena didorong rasa rindu yang tak tertahankan. Panggilan pertama sampai panggilan yang tidak dapat kuingat tak juga mendapat tanggapan dari kamu. Aku mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban. Haruskah kudatangi rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi?
Kamu pernah mengundangku ke rumah dan memperkenalkanku kepada orang tuamu dan ketiga adik lelakimu. Kamu anak perempuan satu-satunya dan sebagai anak sulung orangtuamu mengharapkan kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik. Kamu diharapkan menjadi tulang punggung keluarga bukan tumpuan tulang selangka Ayah John. Itulah kedatanganku yang pertama sekaligus yang terakhir. Kamu melarangku datang lagi karena kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita. “Bagaimana mereka bisa tahu hubungan kita? Kamu menceritakannya? Bukankan kita sudah sepakat akan merahasiakan sampai mereka dan dunia tahu dengan sendirinya?”
“Aku masih ingat dengan kesepakatan itu. Tapi aku tak ingin mereka tahu lebih cepat.”
“Mereka takkan tahu kalau kamu tidak menceritakannya. Keluargamu mengira kita hanya sahabat. Dunia juga mengira kita sepasang sahabat.”
“Aku bisa membohongi perasaanku dengan kata-kata, tapi tidak dengan mataku.”
Aku menyukai kekhawatiranmu itu dan percaya memang karena itulah kamu melarangku ke rumah lagi. Kalau sekarang aku nekat ke rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi, apakah kamu akan marah?
Panggilan kamu datang ketika aku berada dalam kebimbangan. Aku menyambut suaramu dengan gembira, tetapi kemudian kamu membawa kabar duka. Ayah John kena stroke. Ketika aku mendengar itu pertama kali aku malah menduga itulah kabar gembira sesungguhnya. Kemudian kamu mengatakan dengan jujur selama ini kamu berada di rumah sakit untuk merawat Ayah John.
“Mengapa harus kamu? Bukankah sudah ada keluarganya?”
“Ayah John yang mengharapkan aku datang. Kami merawatnya bersama.”
“Kami?
“Aku, istri Ayah John, dan ke empat anaknya.”
Aku masih belum dapat memahami. Bahkan setelah kamu menjelaskan panjang lebar kalian (kamu, Ayah John, istrinya dan anak-anaknya) sudah berdamai dan sepakat melangsungkan pernikahanmu dengan Ayah John. Itu janji yang akan dipenuhi setelah Ayah John benar benar sembuh.
“Ayah John pernah mengucapkan janji yang sama dulu. Tapi dia mengingkarinya…”
“Beda, sekarang janji di depan keluarganya sendiri dan semuanya menerima. Kami sekarang seperti sebuah keluarga.”
Kamu percaya dengan janji dan perubahan yang cepat sehingga suaramu terdengar sangat bahagia ketika mengucapkan itu. Kamu tidak peduli dengan hariku yang terluka sehingga dengan enteng mengatakan hal itu seperti mengabarkan sebuah berita ada film bagus yang main malam ini.
“Kenapa?” aku mulai tidak mampu mengendalikan emosi setelah sekian lama terdiam, “mengapa kamu lakukan ini kepadaku?
“Maaf, sayang. Aku tahu ini membuatmu sakit. Tapi aku harus mengatakannya. Aku menginginkan seorang anak dari rahimku sendiri.”
Kita pernah sepakat mengadopsi bebrapa anak saat kita hidup bersama. Masihkan kamu ingat dengan semua itu?
Suaramu lalu lenyap dari telingaku dan luka hatiku semakin menganga. Aku tidak percaya kamu melakukan semua ini kepadaku, apa pun alasannya. Kamu membunuh jiwaku dengan membuka kembali cinta lama yang ingin kamu kubur di dasar hatimu paling dalam. Jiwaku baru saja mati tetapi jiwamu baru hidup kembali.
Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil terus menangis. Aku ingin kamu berada di sini dan kita menangis bersama sampai air mata kita menyatu seperti dulu.

Di Persimpangan Pantura



dengan 87 komentar
 
 
 
 
 
 
53 suara


Tak pernah sekalipun aku tampil dengan rok mini dan paha mengundang apalagi bahu terbuka dan dada menantang, tapi mengapa nasib tak berpihak juga?
Namaku Limbuk, asal Dukuh Menjangan. Hidupku isinya cuma kesedihan. Keceriaan adalah hal yang absurd bagiku. Lagipula tak ada yang aneh dengan kesedihan di negeri ini bukan? Namun aku selalu ingat kata simbok dulu, hidup ini memang sekadar mampir ngombe, singgah untuk minum.
Tak pernah aku mengerti arti perawan sampai suatu hari simbok bilang aku tak perawan lagi. Padahal hanya sedikit noda darah pada celana dalam, tapi mengapa nasibku jadi berputar seratus delapan puluh derajat? Sebelas tahun usiaku waktu itu, ketika dengan kejamnya Lik Sol mengenalkan arti perih sesungguhnya. Ego yang berbalut nafsu itu biang keladinya.
”Untung kamu masih bau kencur…” Istri Lik Sol ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Benih suaminya tak bisa membuahiku. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik dari tubuh kurus keringku.
Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan kata-kata kotor. Mata mereka isyaratkan birahi.
Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik Sol, tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Sol berkeliaran di desa. Kata orang, ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang tengah malam. Esok hari pagi-pagi buta, ia telah menghilang. Istrinya tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap.
Aku tak mau lagi pergi bermain, keluar rumah hanya untuk sekolah atau disuruh simbok ke warung. Limbuk kecil makin terpuruk tak tahu bagaimana bersihkan lumpur yang melekat. Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong, berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi. Godaan untuk bunuh diri bukan tak ada, sayang uang jajanku tak pernah cukup untuk beli obat serangga. Gantung diri jelas tak menarik minat. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu.
Ketika tawaran Yu Silam datang, aku seperti kejatuhan bintang. Ia mengajak ke kota untuk sekadar bantu-bantu di rumahnya. Aku tahu simbok berat hati melepasku. Apa daya bayangan uang kirimanku kelak begitu menggodanya. Apalagi bapak sudah lama lari dengan perempuan nakal. Penghasilan simbok sebagai buruh tani tentu jauh untuk dikatakan layak.
Mungkin saja simbok lega dengan kepergianku, tak ada lagi aib yang ditutupi. Aku tahu, ia sering menangis diam-diam ketika mengelus-elus kepalaku di tengah malam. Tentu ia paham penderitaanku, bukankah selama sembilan bulan kami pernah berada pada raga yang sama?
Ternyata bayangan kota di benakku selama ini amat jauh dengan kenyataannya. Meski rumah-rumah di sana lebih bagus daripada di desa, tapi tak ada gedung bertingkat dan Monas seperti di buku pelajaran.
”Ini bukan Jakarta, bodoh! Ini Patokbeusi, negeri seribu impian… ” sergah Yu Silam memotong tanya ini dan ituku.
”Patokbeusi ini kota, Yu Silam?”
”Ssssttt… jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!!” bentaknya. ”Aku Ningce.”
Ia melangkah pongah dengan dagu terangkat. Aku mengikuti langkah-langkah lebarnya dengan senyum dikulum. Nama yang aneh, apa nama kota memang aneh-aneh begitu?
”Ini daerah pantura, pantai utara Jawa,” jelasnya tak sabar.
”Kenapa belum terlihat pantainya?”
Yu Silam mendengus.
Ternyata yang dimaksud bantu-bantu itu mengurusi Yu Silam. Menyiapkan air mandi, masak, termasuk menyediakan minuman hangat sepulang kerja. Yu Silam pulang kerja menjelang pagi. Berangkatnya waktu Isya dijemput ojek langganan. Aku tak berani tanya-tanya lagi karena matanya melotot waktu kutanya kantornya di mana.
Lama-lama aku mulai menduga-duga Yu Silam kerja apa. Pantas saja ia harus bergincu begitu rupa dengan bahu terbuka. Aku tak mau ambil pusing selama ia rajin mengirimi uang kepada simbok sebagai bayaran tenagaku. Untuk diriku, cukuplah uang jajan ala kadarnya. Toh aku selalu makan kenyang di rumahnya. Kadang-kadang Yu Silam pulang membawa fuyunghai. Nama yang aneh untuk masakan telor dadar dengan isi macam-macam. Enaknya luar biasa, simbok pasti belum pernah ketemu makanan seperti ini seumur hidupnya.
Dua tahun berlalu, Yu Silam mengeluh tak sekuat dulu lagi. Ia mulai sering masuk angin. Aku sudah hafal saat ia mulai sibuk mencari duit benggol untuk kerokan. Kudengar ia berkata kepada temannya kalau pelanggannya tak sebanyak dulu.
”Ganti namamu, tak ada Limbuk yang sekurus tubuhmu.” Gurau Yu Silam.
Aku terkekeh. Mungkin waktu aku lahir, bapak berharap aku semontok Limbuk, tokoh punakawan. Ternyata tak ada yang berubah. Yu Silam terus saja memanggil nama asliku.
”Apa kamu ndak mau jadi seperti aku tho, Mbuk?”
”Coba kamu ingat-ingat siapa yang rumahnya paling mentereng di desa kita selain Pak Lurah?”
Aku cuma termangu dan membisu. ”Jangan takut, kalau kau rajin suntik tidak akan apa-apa.” Yu Silam tersenyum manis sekali.
Aku masih diam saja. Tak tahu harus bicara apa.
”Toh kamu sudah pernah disentuh laki-laki.” Tak ada nada cemooh dalam suara Yu Silam, tapi hatiku serasa disilet-silet. Pedih dan perih.
Demikianlah akhirnya aku terbawa masuk lingkungan warung remang-remang itu. Jadi ini memang kantornya Yu Silam. Untung saja Mami di situ masih punya nurani, ataukah memang usiaku yang masih belum cukup? Mungkin saja memang seperti itu jenjang yang harus ditempuh untuk menjadi dongdot 1). Jadi aku cuma bantu-bantu cuci piring dan bersih-bersih. Kadang-kadang juga bantu keperluan perempuan-perempuan di situ.
Di siang hari aku bisa bernapas lebih lega, sebab malam hari telingaku tersiksa mendengar tawa mereka yang berubah seperti ringkik kuda. Makin malam makin ramai pesanan makanan dan minuman. Musik dangdut berdentum keras. Truk besar banyak diparkir di luar. Sopir-sopir dengan wajah berkilat oleh keringat sejenak melepas lelah, dikelilingi gelak dan bisik undangan syahwat. Beberapa dari mereka kemudian menghilang ke kamar-kamar di belakang. Tak tahu pasti aku, mereka sekadar melepas lelah ataukah sejenak melupakan beban hidup?
Kupikir jadi dongdot di sini bukan hanya karena terimpit kemiskinan, tapi sudah jadi gengsi. Ada yang menganggap sebutan jablay sebagai kebanggaan. Kebanyakan mereka berasal dari daerah tak jauh dari sini. Kakak beradik bisa bekerja di satu warung bahkan kabarnya ada yang seizin orangtua. Kelihatannya hanya Yu Silam yang satu-satunya pendatang. Pasti ada seseorang yang membawanya ke sini dulu.
”Jangan melamun saja, nanti piringnya pecah.” Mami menepuk bahuku perlahan.
Aku tersenyum malu, ketahuan bekerja tak sepenuh hati.
”Kamu mesti sabar dan tekun sampai tiba nanti saatnya senang-senang.”
Senyumku terhenti di tenggorokan.
Ia melangkah keluar dapur sambil berbisik di telingaku, ”Jangan mau digoda tamu, bilang Mami kalau ada apa-apa …”
Duh Gusti, perempuan setengah baya ini dari luar tampak perhatian dan penuh kasih. Sesungguhnya ia hanya mengincar keperawananku yang punya harga tinggi di sini. Seandainya ia tahu kisah sedihku.
Mami memang perhatian kepada anak-anak asuhnya. Tak bosan-bosan mengingatkan mereka kapan waktunya suntik. Kadang-kadang juga menegur cara berdandan dan berpakaian. Ada yang bilang Mami juga ’dosen’ alias dongdot senior yang masih menerima tamu sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Aku tak yakin, apa benar masih ada tamu dengan selera seperti itu. Sebab jadi primadona di sini tak bisa lama-lama, selalu saja ada yang baru datang, dan lebih segar.
***
Empat bulan aku di sini, Yu Silam jarang kerja lagi karena sakit-sakitan sampai suatu hari berhenti sama sekali. Aku tak tahu ia sakit apa sebab banyak sekali keluhannya. Ia rutin pergi berobat entah ke mana. Tempatnya pasti jauh karena pergi pagi dan pulang malam hari, malah kadang-kadang tak pulang dua hari. Pulangnya selalu dengan obat satu tas keresek.
Suatu hari Mami memberiku baju baru dan mengajari dandan. ”Besok malam, mulailah belajar menemani tamu di meja.” Ia diam sejenak sambil menggerak-gerakkan kuas kecil di pipiku. ”Jangan mau diajak ke kamar dulu ya!” suaranya tetap rendah tapi tegas.
Malam berikutnya, seperti kerbau dicocok hidung aku didorong Mami bergabung dengan kelompok kecil di sudut ruangan. Ada dua orang lelaki di sana yang menyambut dengan senyum penuh arti. Beberapa perempuan di sana ikut juga tersenyum, ada yang tulus ada juga yang dengan bibir setengah terangkat. Biasa itu, anak baru diterima sebagai teman juga sebagai pesaing.
Jarum jam seperti lambat bergerak menunggu malam usai. Satu tamu pergi datang tamu lainnya. Tubuhku sudah lelah dan betisku pegal-pegal karena sepatu berhak tinggi. Mulutku juga pegal tersenyum dari tadi, meski aku lebih banyak berdiam diri.
”Kamu baru ya?” lelaki di samping menyenggolku dengan sikutnya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
”Ngapain kamu di sini? Mending jadi istriku saja.” Senyumnya lebar seperti senyum keledai.
Untung Mami keburu menyelamatkanku. Ia pura-pura menarikku ke meja lain. Mungkin lelaki itu sudah terkenal buaya di sini. Paling buaya di dunia buaya.
Selama seminggu itu aku cuma menemani tamu minum-minum. Minggu depan tak mungkin tugasku masih sama. Kudengar beberapa tamu berbisik keras di telinga Mami sambil memandangiku, ”Berapa?” Jantungku berdetak sekeras musik di situ. Mami menggeleng dengan senyum menggoda, kelihatannya ia punya rencana tersembunyi.
***
Dua orang tamu datang ke rumah. Katanya mereka dari tempat Yu Silam biasa berobat. Tanpa basa-basi ajarkan bagaimana mencegah penularan penyakitnya.
”Lho, memangnya Yu sakit apa?”
”Pokoknya aku tinggal menunggu mati,” sergah Yu Silam kasar, memotong maksud tamu itu untuk menjelaskan. Percumalah aku bertanya jenis penyakitnya, paling-paling pakai bahasa asing yang tak kupahami.
Kemudian semua anjuran dua orang tamu tempo hari kujalani sungguh-sungguh. Kalaupun aku harus tertular, itu pasti kersaning Gusti Allah 2). Yu Silam kelihatan lega aku tak tanya-tanya soal penyakitnya. Sama leganya waktu ia tahu aku mulai menemani tamu minum di warung Mami.
Tanpa kesepakatan, pelan-pelan kuambil alih biaya pengeluaran di rumah Yu Silam. Biaya berobat masih ditanggungnya sendiri dari sisa uang tabungannya. Sisa bayaran dari Mami masih ada sedikit untuk pegangan dan dikirim ke simbok. Namun, aku harus bicara jujur pada Yu Silam.
”Yu, aku mau jadi buruh cuci saja.”
Yu Silam terbelalak. Pisang goreng yang sedang dimakannya seperti menyangkut di tenggorokan.
Takut-takut aku melanjutkan, ”Aku ndak bisa Yu, kerja macam itu.”
”Kamu mau tinggalkan aku kan?? Kamu mau balik ke desa ya??” Yu Silam meradang.
Aku tak berani menatap matanya. Bagaimana menjelaskannya? ”Sudah kucoba. Sudah kucoba Yu, tapi aku ndak bisa.” Jeritku dalam hati.
”Pergilah sejauh yang kau suka. Biarkan aku membusuk di sini!!!” teriaknya parau.
Kupeluk ia dengan air mata, ”Tidak Yu… tidak… kalaupun Yu harus mati akan kurawat dirimu baik-baik.”
Tak bisa kujelaskan dengan kalimat bahwa ia adalah malaikat penyelamatku. Aku tak bisa kembali ke desa lagi. Biarlah simbok hidup dengan adik lelakiku. Suatu hari akan kutinggalkan tempat ini untuk memulai hidup baru bersama Yu Silam. Di tempat yang benar-benar baru, bukan di desa. Aku tak bisa kembali ke sana. Pandangan perempuan-perempuan penumbuk padi itu tak pernah pergi dari benakku. Juga pandangan mata penuh birahi pemuda-pemuda desa.
Mereka tak pernah menganggapku manusia lagi sejak musibah itu. Sesuatu yang terpaksa kulakukan karena ancaman Lik Sol. Tak sanggup kuhadapi mereka nanti bila kulakukan perbuatan atas nama kelamin yang berkesadaran. Aku tak mau jadi dongdot.
***
Mami terbelalak waktu kuutarakan keinginan untuk tetap kerja di bagian dapur.
”Memangnya kau tak ingin uang banyak? Atau ada anak sini yang menjahatimu?” tanyanya beruntun.
Aku menggeleng cepat-cepat, ”Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Jadi tukang cuci juga saya mau.”
Mami ikut menggeleng-geleng. Tubuhnya yang tak lagi langsing bergoyang-goyang. ”Tapi kenapa? Kenapaaa??” kedua tangannya terbuka lebar.
Aku menggeleng juga sambil tersenyum. Mami kelihatan tak puas, mungkin tak rela harga perawanku melayang terbang.
”Saya…saya… saya sudah tak perawan lagi, Mi…” bisikku pelan.
Perempuan setengah baya itu terbelalak, seperti ingin bertanya sesuatu tapi tak jadi.
”Saya korban perkosaan,” lanjutku lirih. Rasanya malu mengakui itu tapi di hati terasa lega luar biasa.
Mulut Mami terbuka dan bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar. Ia mengangguk lemah. Dengan latar belakang segelap itu, mungkin dipikirnya aku tak cukup sehat mental untuk melayani tamu-tamu di sini.
Aku melangkah dengan pasti menuju dapur. Aku siap kembali ke tugas lama, bersih-bersih, cuci piring, dan membuang sampah-sampah. Tapi setidaknya aku bukan sampah dan aku tak mau jadi sampah.
Panggilan lembut Mami menghentikan langkahku. Bibir Mami bergetar, suaranya mirip seperti erangan hewan yang terluka, ”Nasibmu sama seperti diriku dulu, Mbuk…

Jembatan Tak Kembali



dengan 52 komentar
 
 
 
 
 
 
50 suara


Aku akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian? Karena, setiap yang menyeberang di jembatan itu, tak akan kembali. Disergap oleh batas yang ada di seberang sana. Seberang yang berkabut. Dan berisi kesempurnaan.
Dan sebagai jembatan, maka Jembatan Tak Kembali adalah jembatan yang begitu indah. Kerangkanya berwarna merah. Punggungnya kuning keemasan. Sedangkan pagar pembatas samping kiri-kanannya seakan-akan selalu berputar pelan. Seperti berputarnya jarum jam yang bunyinya begitu halus. Deg-deg-deg surrr.
Tapi, meski tak kembali, selalu saja, hampir tiap saat ada yang menyeberangi jembatan itu. Dan si penyeberangnya berasal dari sekian kalangan yang berbeda. Baik berbeda umur, status, atau kepandaian. Dan rata-rata, mereka selalu menampakkan wajah yang ceria. Penuh harap. Dan gelora.
Bahkan, jika kalian saksikan, selalu saja ada di antara mereka (yang menyeberang itu) bernyanyi. Terutama bernyanyi tentang apa-apa yang membuat semua nafsu buruk memadam. Berganti dengan seribu genta mungil yang melayang-layang. Genta mungil yang berdenting. Seperti denting sebaris mantra. Mantra tentang sorga yang dicinta. Sorga yang ketemu lagi.
Dan sorga yang akan membuat mereka mencapai tingkat yang tiada tara. Tingkat, di mana, apa yang mereka sandang akan menjadi sempurna. Dan menjadi sesuatu yang menurut kabar yang ada, mencapai titik yang tak terjabarkan lagi. Misalnya, yang pintar masak, akan dapat memasak tanpa kompor. Yang pintar silat, akan bersilat tanpa bergerak. Dan yang pintar berlari, akan berlari tanpa mengenal tenaga.
”Hoi, berilah kami kelancaran untuk menyeberang!”
”Hoi, juga kelancaran agar tak terperosok!”
”Hoi, juga keteguhan diri!”
Tentu saja, meski mereka menyebut: ”Hoi!,” tapi nada suara mereka bukanlah nada yang memaksa. Sebaliknya, penuh ketulusan dan kerendahan hati. Ibarat sebuah lautan yang biru dan dalam, betapa, betapa tenangnya nada suara mereka. Dan ibarat gunung yang menjulang, betapa, betapa, sampainya puncak gunung itu ke langit lapis ketujuh.
Langit yang di semua sisinya begitu meluas dan makin meluas. Seperti tak ada lagi makhluk yang sanggup mengukurnya. Meski itu cuma di dalam pikiran dan khayalan. Pikiran dan khayalan yang sanggup untuk menulis sekian ribu halaman buku. Buku yang berisi tentang semua pengetahuan yang pernah ditemukan dan yang akan ditemukan.
”Ayo, kita menyeberang. Sampai jumpa ya!”
”Yup, kita menyeberang bersama-sama!”
”Siap! Ayo berangkat!”
Dan mereka (yang menyeberang itu) pun menyeberanglah. Dan rasanya, ketika kaki mereka menjejak di punggung jembatan, pun menjelma semacam langkah-langkah sebuah tarian. Langkah-langkah yang gemulai. Ke kiri, ke kanan. Indah dan memesona. Mungkin, jika saja langkah-langkah itu berada di atas panggung, tentu akan menjadi sebuah pertunjukan yang serasi, kompak, dan menggetarkan.
Sedangkan bagi yang melihatnya. Yang berada di pingir-pinggir, dan yang tak ikut menyeberang, cuma bisa melambai. Sambil tetap mengarahkan pandangannya tanpa berkedip. Di hati mereka, pun penuh dengan doa. Doa yang bermuara pada satu harap: ”Cepat atau lambat, kami segera juga menyeberang. Menyusul mereka. Menyusul untuk mencapai kesempurnaan. Tunggu saja.”
***
Hmm, itulah ceritaku tentang Jembatan Tak Kembali. Sebuah cerita yang penuh teka-teki. Kenapa? Karena aku yakin, kalian pasti akan bertanya: ”Jika mereka yang menyeberang itu telah sampai di seberang jembatan. Di tempat yang berkabut dan berisi kesempurnaan, lalu apa yang dilakukannya? Apakah mereka menjadi puas? Atau ada hal lain yang perlu untuk juga diceritakan di sini?”
Ahai, pertanyaan yang bagus. Pertanyaan yang memang aku nanti. Dan jujur saja, ternyata, ketika telah sampai di seberang, dan memperoleh kesempurnaan yang diharapkannya itu, mereka memang menjadi lain. Apa yang mereka sandang telah mencapai pada titik yang tiada tara. Tak terjabarkan. Semuanya hanya tinggal dipinta dan diucapkan. Langsung tersedia. Dan langsung bisa untuk direngkuh.
”Aku ingin berlari ke bukit!” maka sampailah mereka ke bukit. Atau ”Aku ingin merasakan masakan paling nikmat!” pun langsung tersedia. Dan itu membuat mereka bahagia. Dan membuat mereka untuk terus-terusan mengucapkan ini-itu yang beragam. Ini-itu yang membuat mereka cuma berada di tempat. Tak bergerak. Sebab, buat apa mesti bergerak, jika apa yang diinginkan selalu tersedia di hadapan. Tersedia dalam aneka ragam yang dapat disesuaikan.
Jadinya, karena kelamaan tak bergerak, pelan-pelan mereka pun menjadi terdiam. Hanya mata mereka saja yang kedap-kedip. Mata yang begitu sempurna dan layak untuk disebut sebagai mata yang bulat, bundar, dan penuh ketenangan. Mata yang kini tampak tak lagi memikirkan bagaimana cara mengasah apa yang disandangnya.
Ya, mereka kini bukan lagi sebagai pengejar dari apa yang mesti dikejar. Sebaliknya, mereka jadi sebagai si pendiam. Si pendiam yang tak lagi menginginkan apa-apa. Sebab, apa yang mesti diinginkan, jika semuanya begitu mudah untuk terwujud dan tercapai? Dan begitu mudah untuk dibentuk hanya dengan sebuah ucapan? Dan rasa-rasanya, tanpa mereka sadari tubuh mereka pun mulai mengeluarkan serabut.
Serabut halus. Serabut yang entah apa warnanya. Tapi begitu berkilau. Dan begitu menerangi tempat di mana mereka berada. Dan saking terangnya, apa-apa yang bergeriapan di sekeliling mereka pun terlihat. Apakah itu yang terbang, merayap, berguling, atau hanya sekadar terpaku tak bergerak. Semuanya terlihat. Dan semuanya seakan-akan memang begitu bahagia hanya untuk dapat terlihat.
***
”Akh, aku tak jadi menyeberang deh!”
”Loh?”
”Iya. Jika akhirnya cuma seperti itu, terus buat apa.”
Ya, ya, itu adalah perkataan Jose di pagi ini. Perkataan yang mungkin kesekian kalinya. Dan memang perlu kalian ketahui, Jose adalah satu-satunya orang yang kerap membatalkan niatnya ketika akan menyeberangi jembatan.
Padahal, jika boleh aku bercerita pada kalian, semua yang ada di diri Jose sudah mumpuni. Dan layak untuk mencapai kesempurnaan. Lain itu, barangkali, hanya Jose-lah yang telah digadang-gadang oleh semua orang untuk segera menyeberang.
”Tapi, siapa nanti yang akan memberi makan kucing-kucingku?” sergah Jose.
Kucing? Astaga, inilah alasan sejak dulu yang mengganjal diri Jose untuk menyeberang. Alasan untuk memberi makan kucing-kucingnya. Dan kini, kucing-kucing Jose tidak lagi lima atau enam ekor. Tapi mungkin hampir lima puluh ekor. Dan setiap pagi, siang, dan sore selalu diberinya makan.
”Kucing-kucingku butuh makanan yang layak?” begitu tambah Jose, ”Sebab kucing-kucingku itu hampir tiap malam mengejari tikus-tikus. Tikus-tikus yang gemar merusak setiap apa yang ada di kampung. Dan kalian tahu jugakan, tikus-tikus yang merusak itu, kini semakin banyak. Gemuk-gemuk. Dan ngawur-ngawur. Bahkan, saking ngawurnya, di siang bolong pun berani merusak juga. Seperti sudah tak ada lagi yang ditakuti.”
”Terus, kapan kau akan jadi sempurna?” tanya seseorang.
”Aduh, biarlah tak jadi sempurna. Asalkan kucing-kucingku masih dapat aku urus.”
Dan seperti yang sudah-sudah, Jose pun kembali meninggalkan pinggir Jembatan Tak Kembali. Semua orang memandangnya. Semua orang melongo. Dan seperti pendekar dari dunia antaberantah, kucing-kucingnya pun mengintil. Kucing-kucing yang lucu. Kucing-kucing yang tangkas. Dan kucing-kucing yang membuat orang yang melihatnya jadi gemas.
Bagaimana tidak gemas, kucing-kucing itulah yang kerap mengganggu mereka ketika sedang makan. Atau sedang enak-enak tidur. Sebab, tingkah laku dan suara ngeongnya demikian keras dan memekak. Apalagi jika sudah memasuki musim kawin. Ck ck ck kampung pun seakan-akan berubah menjadi panggung simponi yang ribut. Simponi yang sering membuat genting-genting bergeser.
Jose, Jose, ya, itulah nama orang yang tak mau menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Jembatan untuk memperoleh kesempurnaan. Hanya karena tak mau meninggalkan kucing-kucingnya. Dan karena ketakmauannya itulah, banyak orang di kampung yang membicarakannya. Ada yang bangga. Ada yang cuek. Dan ada pula yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh.
Si aneh yang lebih suka memberi makan kucing-kucingnya daripada mengejar kesempurnaan hidupnya. Dan mereka yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh ini, semakin lama, semakin bertambah. Dan siasat pun mulai mereka gariskan. Yaitu, bagaimana caranya agar kucing-kucing Jose dapat berkurang.
Mulailah mereka mencuri kucing-kucing Jose. Yang kuning. Yang coklat. Yang hitam. Yang putih. Dan yang kelabu pun dicurinya. Dimasukkan ke dalam karung dan dibuang ke luar kampung. Sampai akhirnya, kucing-kucing Jose habis. Dan Jose pun kelimpungan. Dan Jose pun menjadi sedih. Setiap waktu, setiap saat, kerjanya cuma mencari kucing-kucingnya yang hilang.
Dan di antara rasa sedih dan mencari inilah, mereka yang telah mencuri kucing-kucing itu, berkata pada Jose: ”Jose, percayalah, kucing-kucingmu itu telah menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Menyeberangi secara diam-diam.” Tapi anehnya, sejak perkataan ini terlontar, sejak itu pula sosok Jembatan Tak Kembali pun jadi menghilang. Tak berjejak. Seperti ditelan kegaiban.
Dan tikus-tikus, yang kini tak lagi punya penghalang itu, pun segera merajalela di kampung!

Kamis, 30 Agustus 2012

diandra

Ini untukmu Diandra, nama yang menjadi separuh ingatanku. Mungkin cuma kemungkinan yang mampu aku persembahkan untuk kenyataan yang masih merupakan masa depan, jika esok masih akan hadir. Aku tak berani memastikan semuanya, bahkan sedetik setelahnya pun masih menjadi rahasia bagiku, kau rahasiaku, rahasia yang masih menjadi rahasia. Bukan angin yang menerbangkanku, bukan pula sayap yang mengepakkan diri untukku, tapi gravitasi menolakku, dia mengabaikanku, bahkan dia rela membangkang, menyalahi hukum kekealannya. Kematian itu hidup, Diandra, dia ada, dan dia berada, dia mampu membunuh, dan dia pasti, tak seperti diriku padamu yang hanya sebatas kemungkinan. Maka, bila kematian itu mdnjadi cita-cita, janganlah khawatir tak akan meraihnya. Ini untukmu, Diandra, wajah yang masih samar namun sudah sangat lazim dalam sketsa penglihatanku. Deretan bilangan desimal menempatkanmu di urutan tak teridentifikasi, meski aku mampu menghitung dan menulisnya. Kau masih absurd, namun nyata dalam keabsurdannya. Ini untukmu, Diandra, pesan yang selalu hanya tersimpan dalam kotak outboxku, entah ke alamat mana tujuan sebenarnya. Ini dirimu, Diandra, sosok sesederhana kalimat itu tertuliskan dalam catatan-catatan saku yang usang. Ini sejarah, Diandra, di mana kematian tak mampu membunuhnya, dan itulah tempatmu.

diandra1

5...................4................................3.............................................2..................................1............................. Mari kita mulai, ada beberapa perjanjian yang telah disepakati, juga ada beberapa daftar warisan yang siap diturunkan kepadamu, ini dia 1. Kehidupan secara umum 2. Tentang waktu 3. Hukum gravitasi 4. Fotosintesis 5. Atom 6. Tujuan hidup 7. Konflik dengan kenyataan 8. Komedi 9. Membaca sendiri 10. Keberadaan 11. Kematian 12. Perbedaan 13. Persamaan 14. Sejarah 15. Batas 16. Ukuran 17. Bentuk 18. Bilangan matematis 19. Kecintaan 20. Sistematis logika sudah siap? Kehidupan secara umum berusaha mengecilkan sesuatu yang sangat besar. Ini lebih mudah untuk kau genggam. Anggaplah sebuah kursi itu bisa dilipat, sehingga kau mampu membawanya ke mana-mana, itulah kedudukanmu. Pikiran kita terkadang terlalu besar, terlalu luas, hingga tak ada tempat dan tak cukup waktu untuk menampung dan membahasnya satu per satu. Maka dengan "umum' yang beliau wariskan ini setidaknya kau mampu meraih gambaran besarnya, selebihnya bairkan kenyataan mendewaswakanmu. Jangan merumitkan sesuatu, bairkan ia rumit dengan sendirinya, agar ia lepas, agar ia bebas, agar ia bisa lumrah, lazim, dan biasa dalam persepsimu. Seperti cinta. Cinta itu biasa hanya saja merasakannya sungguh luar biasa. Aku Diandra, sosok yang bertugas menyampaikan warisan ini kepadamu. Ini baru yang pertama, sampai jumpa di urutan ke dua sampai duapuluh nantinya, semoga kita tidak mandek sebelum ia genap.

menulis waktu

Aku ingin menulis waktu. Akhirnya, kali ini. Sampai sudah. Setelah perjalanan yang kadang melelahkan, kadang menjemukan, dan kadang-kadang cuma sebatas kadang-kadang ini aku akhirnya sampai pada satu keinginan yang begitu lama belum bisa terwujud.

WAKTU

Begitulah aku mendengarnya, melihatnya, mengenalnya, dan barulah saat ini aku berani menulisnya di sini, di sini, di halaman yang akan menjelaskan ini, penjelasan subyektif seorang yang ingin.

Sudah lama aku menguntitnya, aku menelusurinya, memikirkan berbagai macam teori-teori ilmiah dan teori-teori sinting, ternyata dia tak ada di keduanya.

Belakangan ini, ketika aku sadar bahwa aku sudah di depan, aku perlahan lupa menoleh ke belakang, bahkan semakin parah lagi, aku lupa cara menoleh. Belakangan ini aku hanya merangkai teks-teks yang sebenarnya mati, hanya mata-mata yang membacalah telah menghidupkannya, terima kasih untukmu wahai mata-mata yang begitu setia membaca, kau telah menghidupkan teks ku.

Waktu bukan sebuah teori. Ia berjalan dengan sangat apatis. Apatisme tertinggi ada pada waktu, bahkan sebegitu besar kau menghargainya toh dia akan tetap berlalu dengan kecepatannya yang konstan. Waktu adalah simbolis kesetiaan, di mana dia tidak melakukan percepatan, dia tidak peduli pada energi-energi stimulus, dia akan setia pada tugasnya. Waktu cuma satu, hanya saja jatah manusia berbeda, dan kita mendapatkan perjalanannya sebagai jatah, bukan mendapatkan sebagian darinya.

Tidak selalu definisi membuatmu mengerti. Seperti aku padamu, aku pada waktu, kamu pada waktu, kita pada waktu, dan waktu pada kita. Haruskah teori-teori meluruskan semuanya? Sementara waktu tak pernah peduli, dia hanya setia pada hakikatnya.

Kita ini makhluk, waktu tidak, meski ia bergerak, ia tak hidup, ia hanya menghidupkan kita. Nyawa pun tak berarti tanpa perjalanan waktu, maka aku mencintaimu seperti waktu, bukan menganalogikan cinta untuk mengsusung romantisme dan idealisme. Hanya memberikanmu sebuah penggambaran. Toh seperti tak selalu sama, bahkan tak akan pernah sejajar, sementara analogi membuatmu mati pada usaha menyamakan dan mensejajarkan.

Rangkaian aktivitas membutuhkan waktu, namun waktu tak membutuhkan rangkaian itu, dia tak akan habis, dia selalu ada sampai Tuhan betul-betul menghentikannya.

Untuk teks-teks yang dulunya mati, mata-mata membaca telah menghidupkannya, dan waktu yang telah menyempatkan semuanya.

Untuk Matar yang selalu terasa, Gandi yang selalu ikut bersamaku, Silviana yanng menggeliat, Diandra yang misterius, dam Silvika yang berwarna. Maka nama hanya sebagian cara mengenalmu. Dan aku butuh waktu memberimu nama juga mengenalmu.

Untuk tanda baca, kau membingungkan, namun aku refleks, aku bersimpati, aku sempat, karena waktu menyempatkanku.

Untuk teks-teks yang berbahasa, atau hanya diam di tempat menunggu bahasa membahasakannya, rupanya objektifitas itu gagal. Subyektifitas yang majemuk justru membuatnya kaya.

Untuk mata-mata yang membaca, waktu telah menyempatkanmu, untukku yang menyematkan teks pada hatiku, waktu telah menyempatkanku.

Untuk pertemuan dan perpisahan, waktu telah menyempatkanmu.
Untuk kebearadaan, waktu telah mengadakan.

Hai......untuk yang lupa menoleh sepertiku. Aku mencintaimu, karena Tuhan telah mengizinkanku, dan waktu telah menyempatkanku.

Untuk kita yang masih sempat, waktu masih menyempatkan kita.

SEPUCUK SURAT TAK TERBACA


Hanya memulai itu sebuah acuan lantas kau mengagungkannya Kemudian tengah itu proses kau menyungguhinya Dan akhir itu hasil kau mengejarnya Adalah air yang hampir menyamai waktu Ialah kagum yang hampir menyamai cinta Dan mati yang berhasil menyerupai hidup Terlahirlah atom-atom Berkumpullah mereka dalam sebuah medan, bereaksilah mereka membentuk partikel, lalu unsur, lalu senyawa Kitakah kimia itu? Berwujudlah yang nyata, setelah ia berbentuk, setelah ia tercitra, lalu ia bernama, lalu ia berdefinisi, lalu ia terurai kembali, dan muncullah pemahaman-pemahaman, lalu ia diteliti, lalu ia diteorikan, lalu ia menjadi panutan Berbekaslah sebuah sejarah, setelah ia menjadi kini, setelah ia hanya kemarin, setelah ia sebatas masa lampau, setelah ia berhasil dikenang Terhidanglah makanan, setelah ia hanya tumbuhan, hewan, setelah ia ditemukan, setelah ia diketahui bergizi, setelah ia diolah, kemudian terhidang, kemudian dikunyah, kemudian dicerna, kemudian berfaedah Bersembunyilah hitam, di balik cerah warna warni, dibalik gradasi indah, di balik pelangi, di balik putih, di balik hitam yang tak cukup pekat Terlahirlah manusia, setelah ia hanya embrio, setelah ia menginap di rahim, setelah ia dibisikkan Tuhan, kemudian ia bernama, kemudian ia tumbuh, kemudian ia belajar, kemudian ia mengotori diri lalu meminta maaf, kemudian ia mengulangi kesalahan, lalu ia malu, kemudian ia berhasil setelah ia gagal, kemudian ia gagal hingga ia mati, hingga ia hijrah, hingga ia harus menyerahkan segala pinjamannya Berkata-katalah bahasa, setelah ia hanya sebatas titik, kemudian menjadi garis, kemudian menjadi huruf, kemudian menjadi kata, kemudian menjadi kalimat, kemudian berbentuk paragraf, kemudian ia bercerita, kemudian ia bermakna Diketahuilah kehidupan setelah kita sadar, setelah kita lelah bersenda gurau, setelah kita jemu berbaring, setelah kita penat dengan udara, ketika kita habis di ketiadaan, ketika kita merasa butuh, ketika kita merasa ingin, ketika semua harus terpenuhi, lantas ia harus terus berlanjut Sepucuk surat, ia aktif, tidak dalam kaidah, tidak dalam penemuan, tidak dalam pencitraan, tidak dalam hukum pemaknaan, tidak dalam alam bawah sadar, tidak dalam dinamika, tidak dalam keharusan, tidak dalam keperluan, semua begitu saja tanpa ada yang tahu, mungkin tanpa sempat membaca Kemudian kita bertanya, siapa aku? Kau siapa? Kita di mana? Kita harus melakukan apa? Lalu terseretlah sepucuk surat aktif terbawa angin bersama debu, setelah meniup rumput, bunga-bunga, semak belukar, padan ilalang, udara yang diam, sementara gravitasi tak kuasa menariknya rapat dengan tanah, sang lantai bumi yang luas Terbersitlah cinta, kemudian manusia merasa, kemudian menikmati, kemudian merasa indah, kemudian abjad pun terlibat, berpadu, sedikit memaknai, banyak memolesi, membuatnya indah, membuatnya terlihat, terdengar agung, ada juga yang membuatnya seperti lelucon, kekanak-kanakan, feminis, cengeng, air mata, pengorbanan yang bodoh, alibi-alibi atas kesalahan, pertahanan terkuat, gelak tawa di sepanjang perjalanan waktu, hingga kita lupa bahwa ada waktu yang terus berlalu, dan tak akan menunggu Membumilah puisi, atas nama cinta, atas nama Tuhan, atas nama keluarga, atas nama kehidupan, atas nama aksara, atas nama identitas, hilang tanpa ada apa-apa, hanya selembar surat tak terbaca Kemudian setelah semuanya, semua tanpa sisa, semua yang bersembunyi akan terkuak Semua yang berpadu akan berpisah, semua yang terurai akan berjalan sendiri, mengikuti keharusan, menuruti aturan, tak ada kebebasan, tak ada pengekangan, tak ada apa-apa Dan Semuanya akan berhenti, waktu tak akan berhenti, ia terus melaju, mengikuti perintah Sang Maha Tahu, walau ia sendiri tak tahu mengapa harus terus melaju, walau ia tak tega harus terus tega Kita hanya miniatur, kecil, walau ada yang luas di luar sana, mungkin hanya analogi yang hiperbola, mungkin saja puisi tak akan pernah bermakna, selembar surat tak terbaca, tersimpan penuh debu dalam lemari bersama peluh, bersama tangis, bersama bibir yang merekah, bersama perasaan yang terkuras habis, kering, terjemur, terbakar dan hangus, abunya pun lenyap ditiup Tuhan Keluarlah yang kita yakini, ia berjejer menanyai mata, menanyai telinga, menanyai lidah, menanyai kulit, menanyai hidung, ,menanyai sekujur tubuh, dan hati tak pernah berdusta, ia tega seperti waktu, mereka adil, kita yang tak bertanggungjawab Kemudian aku tak mampu lagi menulis lalu, menulis kemudian, menulis setelah itu, aku tidak tahu, kau pun tidak tahu, hanya pasrah, berserah, tanpa sempat lagi bergegas, tanpa sempat lagi berpuisi, tanpa sempat lagi berkata, puisi sang surat tak terbaca adalah diriku, tertiup angin bersama debu, bersama partikel udara yang mengurai kembali menajdi atom-atom tunggal, egois, enggan menyatu, dan klorofil pun tak mau melahirkan oksigen Kenyangkah dirimu? Apakah kau akan sangat menghargai awal, begitu menyungguhi tengah, dan setia menanti akhir Itu saja? Apakah kau akan berkata akulah puisi yang tak sempat terbaca, maka bacalah aku saat ini Dan Semuanya tak sempat lagi

ALUNAN PUISI HILANG


Tersenyumlah saat kau melihatku, karna saat itu aku tak berada di dekatmu.
Dan menangislah saat kau mengingatku, karna saat itu aku tak berada di sampingmu.
Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu, karna saat itu aku akan terasa ada di dekatmu.
Karna aku telah berada dihatimu untuk selamanya.
Tak ada yang tersisa lagi untukku, selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu.
Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta, mata indah yang dahulu adalah milikku, kini semuanya terasa jauh meninggalkanku.
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu.
Hati, cinta dan rinduku adalah milihkmu.
Cintamu takkan pernah membebaskanku.
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain? saat sayap-sayapku telah patah karnamu.
Cintaku akan tetap tinggal bersamamu, hingga akhir hayatku dan setelah kematian.
Hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi.
Betapapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan yang tengah menghidupkan sinar hidupku, namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya.
Aku tidak bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu, karna aku tertekan dingin oleh sosok dirimu dalam jiwaku.
Kau takkan pernah terganti, bagai pecahan logam yang mengekalkan kesunyian, kesendirian dan kesedihanku.
Kini, aku telah kehilanganmu.

Minggu, 29 Juli 2012

tak coba blng seandaiy

tak coba blng seandaiy

oleh Rakiz Blank pada 23 Oktober 2011 pukul 19:00 ·
seandainya aku dapat menghampirimu
mungkin saat ini aku sudah berada di dekat mu
seandainya goresan pena ini dapat menghapus rinduku
mungkin setiap saat ku rangkai kalimat cintaku
... ...andai desiran angin dapat memahami ku
mungkin akan membawa ku kepangkuan mu
andai waktu dpt terulang untuk ku..menemui mu akan ku katakan yank aku sangat merindukanmu 



  
· · · Bagikan · Hapus

Sabtu, 28 Juli 2012

terima kasih untuk anda,,,,,,,,,para pembaca

  sblmy aq blm sempat ucapkan untuk para pembaca my blog  http://loverakiz.blogspot.com/
smua ini hnyalah ungkapan......http://loverakiz.blogspot.com/

smoga dibulan yg penuh ampunan n rahmat ini...para pembaca bs lbh khusyuk ibadahy....


     terima kasih untuk anda,,,,,,,,,


   ttd:::::rakizblank

Mengenalmu 2X24 Jam, Kuterima Lamaranmu Sayang



Enam bulan dua puluh empat hari telah berlalu di tahun ini.  Itu artinya tak ada perubahan dalam kehidupanku selama enam bulan dua puluh empat hari ini. Aku masih saja blangsak di awal tahun, dana yang kusiapkan untuk mengawali tahun seolah tak pernah cukup sehingga aku harus tambal sulam untuk memenuhi kebutuhanku selama bulan-bulan ini.
Entah karma mana yang mengiringiku setiap tahun sehingga aku harus terperosok di lubang yang sama. Lagi, lagi dan lagi.
Walaupun seiring waktu semua itu akan berlalu, namun tetap saja hal ini menguras pikiran dan perasaanku.
Tahun ini adalah tahun kelima aku menjadi single parents. Lima tahun lalu dengan mengumpulkan seluruh keberanianku, aku memutuskan untuk berpisah dari cinta pertamaku, belahan jiwaku, dan sandaran hidupku.
Aku memutuskan berpisah ketika mengetahui rumah tangga yang kubangun tidak lagi dipenuhi dengan cinta yang utuh. Pengkhianatan, perselingkuhan menjadi menu sehari-hari kehidupan perkawinanku. Selama lima belas tahun aku mencoba bertahan, namun ketika pengkhianatan sudah dilakukan secara terang-terangan, aku tak bisa tahan lagi.
Kami bertarung setiap saat. Rumah yang dulu teduh kini berubah jadi neraka. Aku terluka, aku marah meski pada saat yang sama aku juga menyadari bahwa keberadaan cinta tak pernah bisa dipaksakan. Setiap orang bisa berhenti mencintai dan lalu memulai lagi cinta yang baru dengan orang lain lagi. Kesadaran itulah yang akhirnya menguatkanku untuk berpisah dan mengakhiri perkawinan ini.
Lalu dengan hanya  membawa sisa-sisa harga diriku yang telah hancur aku melangkah, melanjutkan hidup sendiri. Aku mencoba tegar, meski sesungguhnya tidak. Pelan-pelan aku mencoba stabilkan kehidupanku.
Namun kehidupan perekonomianku tak pernah lagi stabil. Dengan pendapatan yang sama dari tahun ke tahun aku harus membiayai kebutuhan keluargaku yang terus meningkat. Aku belum mempunyai akses untuk memperoleh tambahan penghasilan, meskipun aku mencoba terus mencari. Aku juga tidak bisa mengharapkan bantuan dari mantan suamiku karena ia telah mempunyai keluarga baru.
Kehidupan cintaku juga seperti mati suri, tak ada perkembangan yang berarti. Perasaanku yang rapuh membuat setiap hubungan yang kubangun tak pernah maju. Hanya karena satu kesalahan kecil, hubungan yang terjalin baik tiba-tiba saja bisa menjadi sesuatu yang memuakkan. Dan itu tak pernah dapat kuhindari. Aku jadi membenci pasanganku, lalu kemudian membenci diriku sendiri. Dan hubungan pun berakhir.
Satu hal lagi, otakku sudah terpola selama belasan tahun dengan perhatian menyeluruh dari mantan suamiku sebelumnya. Dengan demikian setiap kali aku membangun satu hubungan cinta, tanpa kusadari aku mencari kesamaan atau keunggulan dan membandingkan antara mantan suamiku dengan pasangan baruku. Dan ketika aku menemukan sesuatu yang tidak sesuai atau lebih buruk maka perasaan tertarikku pada pasanganku mulai berkurang dan akhirnya hilang sama sekali.
Pagi ini aku mulai menghitung, seberapa banyak yang telah kulakukan untuk bisa membahagiakan aku. Mengapa aku merasa terjebak dalam situasi ini.
Aku sedang antri untuk melaporkan kartu ATMku  yang tiba-tiba raib di sebuah Bank Swasta. Saat itu aku  sendirian duduk si sebuah sofa yang disediakan. Aku memperoleh no. 13, dan kulihat di layar monitor bahwa petugas sedang melayani pelanggan no. 11. Para pengantri bertambah banyak. Di sofa tempatku duduk, seorang pria setengah baya menanti antrian, ia terlihat tak sabar. Diketuk-ketukkannya jarinya di pegangan sofa. Berkali-kali aku melihatnya menarik nafas panjang lalu melepaskannya. Wajah kerasnya kelihatan begitu menarik. Aku memperhatikannya lebih seksama.
Saat aku memperhatikannya, tiba-tiba  saja ia bertanya “Nomor berapa Mbak?” Aku terkejut dan sempat tertegun sebentar karena tak mengira akan ditanya. Semoga saja ia tak menyadari bahwa aku sedang menilainya. “tiga belas.”jawabku. “Nomorku 21, jika Mbak tak keberatan, bolehkah saya bertukar nomor. Saya harus mempresentasikan pekerjaan saya 30 menit lagi, sementara antrian ini masih begitu panjang. Maukah Mbak menolong saya, plis…”Jelasnya.
“Mengapa Anda datang sekarang jika tak mempunyai waktu yang cukup?” tanyaku dengan suara sedikit ketus. “Semula aku kira waktuku cukup, ternyata tidak, tapi tanggung juga jika tidak berhasil menyelaesaikannya. Jika Mbak menolongku, aku pasti selamat.”
Aku memandangi matanya, kami saling bertatapan. “Tiga belas” teriak petugas bank. Aku segera memberikan nomorku kepada pria bermata teduh itu.  “Thanks” Jawabnya sambil bergegas menuju counter.
Mataku tak lepas darinya, ia kelihatan begitu matang. Bahu dan dadanya yang bidang seolah mengundang para wanita untuk berlabuh  dan menyandarkan hidupnya. Aku masih memandanginya saat ia selesai dengan urusannya. Ia mendatangiku kembali, kemudian menyalamiku. “Aku Abe, terima kasih telah menjadi juru selamatku. Ini kartu namaku, jika mbak tak keberatan silakan hubungi saya. Sampai jumpa.”Katanya.
Kupandangi kartu nama ini di genggamanku. Kubaca dan kulavalkan perlahan. Pria yang menarik pikirku. Kusimpan kartu nama itu di dalam dompetku, meski aku tak punya niatan sama sekali untuk menghubunginya. Aku pun duduk manis sambil menunggu giliranku berikutnya.
Pesta hari ini begitu meriah. Berbeda dengan resepsi pernikahan masyarakat Indonesia, resepsi pernikahan masyarakat keturunan India banyak diisi dengan berbagai hiburan yang mewakili budaya mereka. Mulai dari upacara mengelilingi api bagi kedua mempelai hingga tarian dan nyanyian dipertunjukkan di resepsi ini. Seluruh Undangan hadir dengan busana khas India yang dilengkapi dengan aneka payet dan sekuen. Selendang lebar dab sari berwarna-warni melambai di bahu-bahu telanjang para wanita. Para pria tampil dengan tuxedo ataupun pakaian tradisoinal India seperti yang biasa dipakai Shahrukh Khan.
Tak ada manusia jelek saat itu. Semua terlihat bagus dan mewah. Tak ada antrian panjang di counter-counter makanan. Makanan dan ragamnya begitu berlimpah dan tampaknya masyarakat India dari kalangan ini tidak terfokus pada makanan saat berpesta.
Sendirian aku memasuki Ballroom sebuah hotel mewah. Seusai mengisi buku tamu, aku langsung masuk ke dalam area pesta. Dalam pesta pernikahan India, undangan tidak harus memberikan amplop kepada mempelai, seperti tradisi dalam resepsi pernikahan di Indonesia. Bahkan buku tamu pun tidak selalu ada. Jadi kehadiran kitalah yang paling penting.  Aku memandang ke depan ke tempat upacara pernikahan sedang berlangsung. Aku berjalan perlahan, beberapa pasang mata di kiri kananku menatapku tajam. Di tempat seperti ini aku selalu menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena cantik, namun karena aku memang berbeda dengan mereka.  Meski aku sama-sama mengenakan pakaian tradisional saree, namun aku bukan keturunan India. Yang belum mengenalku biasanya heran melihat keluwesanku dalam mengenakan saree sehingga aku selalu menjadi pusat perhatian di situasi seperti itu. Dan itu selalu saja terjadi, dan anehnya aku selalu menikmati.
Aku bertemu dengan kenalan-kenalanku setelah terlebih dulu memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai dan kedua pasang orang tua mereka yang salah satunya merupakan bosku.
Aku sedang memilih-milih aneka salad saat pria di sebelahku menyapaku “Hai, kita jumpa lagi kan. Perasaanku bilang aku pasti bisa bertemu lagi denganmu suatu hari, dan aku benar. Senang berjumpa lagi” sapanya sambil mengulurkan tangannya.”Apa kabar dewi penyelamatku?” tanyanya sambil tertawa. Tawanya benar-benar meluluhkan hati. “Baik jawabku, sukses presentasinya?” tanyaku sambil tersenyum. “Ya, berkat kamu dewi penyelamatku” jawabnya.
“Kau benar-benar seperti dewi yang baru saja turun dari khayangan, saat kau berjalan sendiri memasuki ruang ini, semua mata seolah tersihir ke arahmu. Sarimu melambai, rambutmu tertiup lembut, aku belum pernah melihat wanita seanggun  ini . Sari biru putihmu benar-benar membungkusmu dengan sempurna.” , Kau benar-benar mengalahkan keanggunan wanita India.” Puji pria itu seolah tanpa akhir. Meski orang lain juga memujiku, namun pujian dari Abe benar-benar membuatku tersipu.
“Hei, mana partnermu?” Aku bertanya karena melihat Abe sendirian saat menyapaku. “Ah, seperti kamu aku juga sendirian.”
Akhirnya kami bergabung, aku tak mengira Abe banyak mengenal para undangan lainnya sebanyak aku mengenal mereka. Beberapa undangan yang baru tiba mengira aku pasangan Abe.  Menurut mereka kami terlihat kompak dan romantis dan itu benar-benar membingungkan kami.
Ini adalah pertemuan keduaku dengan Abe, namun aku sudah merasa nyaman berada di sampingnya sepanjang pesta itu. Kenyamananku itulah yang mungkin terlihat oleh orang lain sehingga kesannya jadi romantis. Abe menjelaskan kepadaku sekilas bahwa saat ini ia sedang tak menjalin hubungan dengan siapapun. Istrinya telah meninggal dua tahun yang lalu karena tumor di otaknya dan sejak itu ia belum lagi ingin menjalin hubungan asmara apalagi sampai harus terikat. Kini ia membesarkan seorang putri berusia enam tahun.
Pesta berlangsung hingga pukul 2 pagi, tepat tengah malam tadi Abe memintaku untuk memberi tahu sopir kantorku untuk pulang karena Abe akan mengantarku pulang. Jadi ketika pesta usai aku menunggu Abe di lobby. Aku melambai pada beberapa kenalanku yang kebetulan lewat. Beberapa dari mereka menawarkan tumpangan yang dengan halus kutolak.
Abe tiba di lobby sepuluh menit kemudian. Tubuh tegapnya keluar kemudian memutari kendaraannya dan membukakan pintu penumpang untukku. Abe membantuku menaiki kendaraannya karena ternyata sulit menaiki kendaraan itu dengan mengenakan sari.
Abe mengendarai kendaraannya pelan. Sepanjang perjalanan ia begitu tenang padahal jalan begitu sepi. Aku menghargainya untuk itu. Aku tak pernah suka dengan pria yang mengendarai kendaraannya dengan srudak- sruduk, berzigzag ataupun menyalip-nyalip hingga membahayakan orang lain. Abe tidak seperti itu tampaknya. Abe mengendarai kendaraannya dengan mantap dan stabil.
“Apakah kau selalu hadir di resepsi seperti ini?” Tanya Abe. “Ya, aku menemukan sensasi di acara-acara seperti ini” jawabku. “Hai, sensasi, apa maksudmu Dewi?”sahut Abe. Abe berkeras memanggilku Dewi, meski aku telah memberitahu namaku. Menurutnya aku benar-benar seorang Dewi di matanya. “Acara-acara ini selalu unik. Aku harus mempersiapkannya dan perlu waktu lama. Aku harus tampil sama cantiknya dengan mereka. Aku bebas menggali kecantikanku tanpa harus kelihatan berlebihan. Coba kamu bayangkan jika aku mengenakan gaya ini di pesta-pesta Indonesia, pasti aneh dan terkesan berlebihan kan? Ada sensasi yang nikmat saat semua orang memandangmu dan terkagum-kagum.” Paparku. “Wow, kau suka jadi pusat perhatian haa?” sahut Abe diiringi tawanya. “Apa salahnya?”Jawabku sambil tertawa juga. Kami saling berbicara selama sisa perjalanan menuju kediamanku.
Hari menjelang pukul tiga pagi, sebentar lagi fajar menyingsing. Anehnya aku belum merasa mengantuk padahal biasanya sehabis pesta aku langsung tertidur sehingga sopir kantorku akan membangunkanku sesampainya aku di rumah. Namun kali ini Abe tak perlu membangunkanku. Aku masih terjaga saat Abe membukakan pintu mobilnya. Kali ini Abe membantuku turun dari mobilnya. Abe menggenggam tanganku kemudian mengangkatnya dan menciumnya. Jantungku berdebar seolah aku adalah gadis belasan tahun yang baru pertama kali bertemu pria pujaaannya. Abe kembali memasuki mobilnya, “Sampai jumpa!” ucapnya.
Sambil membuka pintu rumahku anganku melayang. Suara Abe saat mengucapkan salam perpisahan masih terekam jelas dalam otakku. Sampai jumpa, itulah ucapan Abe di dua kali perpisahan kami. Dengan kata itu seolah Abe ingin menegaskan bahwa ia berharap akan ada lagi pertemuan.
Kumasuki kamarku. Kulepaskan seluruh pakaian dan perhiasan dan meletakkannya di lemari khusus. Karena aku sering diundang di acara-acara masyarakat India, maka aku mempunyai banyak koleksi pakaian tradisional India seperti saree lengkap dengan pernak-pernik perhiasannya. Aku membelinya saat aku mendampingi bosku melakukan perjalanan dinas ke India.
Setelah berganti pakaian aku keluar kamar memeriksa keadaan anak-anakku di kamarnya masing-masing. Memperbaiki posisi selimut yang tak menutupi tubuh, mengangkat bantal yang terjatuh dari tempat tidur, dan mematikan televisi yang masih menyala dan mencium kening mereka satu per satu.
Kupandangi bungsuku, begitu lembut. Saat memandanginya, adakalanya aku merasa berdosa telah memisahkan anakku yang ini dengan papanya. Kupikir ia masih terlalu kecil untuk dapat memahami kondisi ini. Hingga saat ini ia tak mempunyai figur seorang ayah. Sejak berpisah, papanya tak pernah mengunjunginya lagi. Aku sendiri tak pernah mengira akan seperti ini. Semula kukira Hubungan ayah anak tak akan pernah terputus, namun ternyata setelah pengadilan mengesahkan perceraian kami, hubungan itu benar-benar terputus. Mantan suamiku seperti menghilang dari tanggung jawabnya. Aku hanya mendengar sekilas bahwa ia telah membangun keluarga baru.
Aku berjalan keluar dari kamar si bungsu sambil berjanji bahwa aku tak akan pernah mengecewakan anak-anakku terutama si bungsu. Segala keperluannya akan kupenuhi. Aku akan mencurahkan seluruh perhatianku untuk mereka. Aku akan mencoba menutupi ketidaklengkapan ini.
Kurebahkan tubuhku di tempat tidurku. Aku masih punya waktu satu setengah jam untuk tertidur. Sebentar lagi subuh aku harus kembali bersiap-siap untuk pergi bekerja. Kupikir-pikir inilah kelemahan acara-acara masyarakat India. Mereka selalu menyelenggarakan pesta pada hari baik mereka yang jarang sekali jatuh pada malam libur. Padahal acara tersebut berlangsung sampai pagi. Buat masyarakat India umumnya itu tak jadi soal karena jam kerja mereka dimulai pada waktu menjelang siang, namun bagi orang seperti aku itu lumayan mengusik pola hidupku karena keesokan paginya aku masih harus bekerja seperti biasa.
Jadi, pagi ini dengan mata yang masih sedikit mengantuk aku tiba di kantorku. Agak lega sedikit karena pimpinanku hari ini masih cuti setelah melaksanakan hajatnya semalam. Duduk di kursiku, menyalakan computer. Membuka agenda, menjadwal seluruh pertemuan untuk esok dan mengkonfirmasi seluruh jadwal ke perusahaan rekanan.
Seluruh pekerjaanku selesai tepat menjelang jam makan siang. Aku baru saja meluruskan pinggangku ketika aiphone di mejaku berdering. Kulihat kode yang tertera di layar monitor, front office. Kutekan tombolnya, terdengar sebuah suara”Bu, ada tamu yang menjemput Ibu.” Katanya.”Menjemput saya, saya tak punya janji Sofie.” Jawabku. Samar aku mendengar Sofie bicara dengan tamu tersebut. “Maaf Ibu tapi tamu ini berkeras bilang sudah ada janji untuk makan siang dengan Ibu, namanya Pak Abe”jelasnya.
Aku terperangah tak mengira dapat bertemu lagi dengan Abe secepat ini. Bayangan pria inilah yang menemaniku hingga aku jatuh tertidur pagi tadi. “Oke, baik minta beliau tunggu sebentar. Saya akan segera turun” kataku. Setelah sedikit merapikan diri di toilet, aku pun turun. Aku benar-benar tak mengira Abe akan datang ke kantorku. Dengan dada berdebar aku menjumpai Abe.
Abe menghampiriku “Belum makan kan?”tanyanya sambil tangannya meraih tanganku. Ia membimbingku menuju mobilnya. Abe mengenakan kemeja putih bergaris biru samar dengan dasi biru bermotif putih. Celananya biru gelap dengan sepatu hitam mengkilat. Ia tampak begitu memikat sebagai seorang eksekutif muda.
“Aku atau kau yang pilih tempatnya?” tanyanya. “Kau saja yang pilih, aku masih shock dengan pertemuan ini.” Jawabku sambil tersenyum. Abe membawaku menuju Hotel Borobudur. Di sana kami menuju Ramayana Restaurant.  Aku tak tahu mengapa Abe memilih restaurant ini. Seolah Abe tahu tempat ini adalah tempat favoritku. Biasanya aku kemari bersama teman-teman wanitaku dan menu favorit kami adalah sop buntut. Kami disambut pelayan yang mengenakan batik dan ditempatkan di sudut ruang.
“ini adalah tempat favoritku.” Jelasku pada Abe “Kita bisa memperhatikan orang yang keluar masuk resto ini tanpa ia tahu bahwa kita memperhatikannya. Dan kau tahu, kami selalu membuat jokes atas penampilan mereka. Dari masyarakat umum, pengusaha, bintang film semua kami komentar rasanya menyenangkan sekali. Sangat menghibur” Jawabku sambil tertawa.
“Bagaimana bisa kita mempunyai tempat favorit yang sama ya?”komentar Abe tak percaya. Pramusaji memberikan buku menu dan bertanya apakah kami akan memesan menu saat ini. Aku memesan Sop Buntut goreng, sedangkan Abe memesan Tomyam Udang dan Satu teapot Teh panas untuk kami berdua.
Setelah pesanan kami datang, kami segera menyantapnya. Kami menghabiskan santapan kami dalam waktu 20 menit. Aku menutup makan siangku dengan menikmati seiris cake coklat dan secangkir kopi sedangkan Abe hanya minum secangkir capucino. Setelah menyelesaikan pembayaran kami beranjak pergi. Abe mengantarku kembali ke kantor.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 ketika aku tiba kembali di ruang kantorku. Setumpuk surat yang baru tiba ada di atas mejaku. Aku menyortir surat-surat tersebut berdasarkan peruntukan dan kepentingannya. Aku duduk dan mulai mengamati surat-surat tersebut. Memisahkan antara surat pribadi bos dengan surat-surat perusahaan. Kemudian aku akan mulai membalas surat-surat yang perlu dibalas.
Pukul lima pun tiba. Aku segera menghentikan pekerjaanku. Abe meneleponku, menanyakan apakah aku sudah selesai dengan pekerjaanku.  Aku bergegas turun.  Abe telah menunggu di lobby, ia segera membukakan pintu mobil dan membantu menutupnya.
Abe membawaku ke arah pantai, matahari begitu indah.  Pelan-pelan tenggelam meninggalkan siluet di rupa kami.  ”Maukah kau menikah denganku?” tanya Abe
Aku terdiam.  Dalam diamku  tiba-tiba saja melintas sebuah pernikahan yang berakhir kacau balau.  Pernikahan yang berisi air mata karena dikhianati.  Pernikahan yang selama ini telah menghancurkan seluruh cita-citaku.
Abe menatapku tajam”kita layak mencoba, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti jika kita tak mencoba.” papar Abe
Aku masih terdiam, terbayang wajah anak-anakku yang kucintai.  Wajah-wajah itu menyemangati aku.  Kupandangi wajah Abe, kesungguhan Abe.  Yang inni nampaknya benar-benar berbeda.
“Ya, aku mau.” jawabku
Kuterima lamaran Abe setelah berkenalan hanya selama dua hari. Aku benar-benar tak peduli karena sebelumnya aku pun gagal meski telah mengenal mantanku selama enam tahun. Yang paling menyakitkan telah bisa aku lalui.  Jadi, siapa takut…